Rabu, 04 Mei 2011

GENIUS Les Privat

GENIUS Les Privat menyediakan guru datang kerumah, hubungi : 085648480687
GENIUS Les Privat merupakan lembaga les privat yang telah mempunyai pengalaman memadai dalam bimbingan belajar private disemua jenjang pendidikan sekolah mulai dari TK, SD, SMP, SMA pada semua mata pelajaran.
GENIUS Les Privat menyediakan guru-guru private dari cakupan pelajaran sekolah dalam membimbing siswa menghadapi ujian sekolah seperti :

*
Pekerjaan Rumah (PR)

*
Ulangan harian
*
Ujian Tengah Semester (UTS)
*
Ujian Akhir Semester (UAS)
*
Ujian Akhir Nasional (UAN)

Tentang Guru (Pengajar) Private
Tenaga pengajar yang kami sediakan adalah tenaga pengajar handal dan profesional yang berpengalaman dalam hal mendidik dan membimbing siswa dalam bidang akademis di sekolah. Tenaga pengajar kami sebagian besar telah cukup lama menjadi pengajar Bimbel/private di berbagai lembaga pendidikan di seluruh Surabaya. Di lain pihak, para pengajar kami sebagian besar merupakan mahasiswa UNAIR, ITS, dan Universitas Al Azhar Kairo-Mesir.
Rincian Biaya GENIUS Les Privat.
untuk yang baik, tidak ada yang mahal! segalanya diperhitungkan sesuai manfaat. daftarkan secara sendiri sendiri atau berkelompok sehingga biaya jadi lebih ringan. Berikut rincian biaya GENIUS Les Privat per datang/satu kali pertemuan ( lama belajar 1 sampai dengan 1,5 jam) adalah sebagai berikut:

______

TK _____Rp. 25.000,-

SD _____Rp. 25.000,-

SMP___ Rp. 30.000,-

SMA____Rp. 35.000,-

biaya pendaftaran Rp 20.000,-



Waktu Belajar
Waktu belajar di sesuaikan dengan kesepakatan bersama. Bisa pagi, siang, sore dan malam. Lamanya belajar dalam satu kali pertemuan 1 jam sampai 1,5 jam. Waktu ini sangat sesuai dengan biaya yang akan di keluarkan. Jadi jangan ragu lagi ” Ayo Gabung Di GENIUS Les Privat, Solusi Jitu Menggapai Prestasi “
Materi Bimbingan
Materi yang akan kami sampaikan kepada siswa privat mengacu pada buku paket siswa ditambah soal soal latihan yang akan di berikan oleh guru dari GENIUS Les Privat. Untuk siswa kelas 6 SD, 3 SMP dan 3 SMU akan diberikan latihan soal soal UAN secara intensif sesuai dengan mata pelajaran yang akan diujikan. Sehingga di harapkan siswa akan mendapatkan nilai yang memuaskan. Umumnya materi yang di berikan dalam GENIUS Les Privat adalah;
TK : membaca, menulis dan berhitung
SD : Semua bidang studi
SMP : Bidang studi yang akan di UAN kan plus bidang studi lain
SMA : Bidang studi yang akan di UAN kan plus bidang studi lain
Umum : Tergantung permintaan seperti bahasa asing, komputer, mengaji, bahasa arab, fikih dll

Mengapa harus GENIUS Les Privat ??
Banyak tempat les privat di jumpai Surabaya ini, tapi kami GENIUS Les Privat mempunyai banyak sekali keunggulan antara lain:

*
Guru dari UNAIR, ITS dan Al Azhar Mesir
*
Guru datang kerumah
*
Guru tidak cocok, kami siapkan guru penggantinya
*
Team guru kami tersebar di Surabaya & Sidoarjo

*
Pembayaran dilakukan setelah 1 bulan belajar

*
Evaluasi perkembangan siswa setiap bulan

Info lebih lanjut hub :
(hp) 085648480687

Senin, 14 Maret 2011

Nuansa 3 Pelangi (bagian 5)

Chapter II
Petualangan Pertama di Rimba Kota
Pukul 04.25 wib adzan berkumandang di masjid ini. Adzan ini membangunkan aku dan belasan orang yang tidur disitu. Di sampingku aku lihat Barzu sudah tidak ada ditempatnya. Aku menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari dia namun aku tidak menemukannya. Aku takut terjadi sesuatu dengannya. Akhirnya aku bangun dan mencarinya ke toilet, kamar mandi dan tempat wudhu ternyata nihil. Setelah itu aku pun berpikir mungkin dia pergi ke suatu tempat tadi malam dan tidak tega membangunkan aku untuk sekedar berpamitan. Akhirnya akupun menuju ke kamar mandi, membersihkan diriku dan berwudhu. Setelah itu aku melangkahkan kaki menuju ke masjid, dan samar-samar aku melihat sosok tegak yang ada di pojok masjid. Ternyata itu adalah Barzu, sebelum adzan subuh dia telah terbangun dan melakukan shalat malam. Luar biasa memang anak ini, padahal dia baru tidur kurang dari 2 jam. Aku menjadi semakin kagum dengan dia.
Setelah shalat subuh aku menuju ke tempatnya dan berkata “apa yang akan kita lakukan hari ini?” dia menjawab “kita berusaha untuk mencari makan dahulu dengan cara yang halal dan mengenal daerah sekitar kita”. Akupun setuju, lalu saat itu juga kami bergegas dan mencari peluang yang dapat menghasilkan uang buat kami. Karena sejak tadi malam perut kami tidak kemasukan makanan sedikitpun.
Kamipun berpencar untuk mencari peluang usaha yang dapat dilakukan saat itu juga, dan kami setuju untuk berkumpul di masjid pada jam 7.30 pagi. Aku bergerak kearah bis-bis yang sedang terparkir dan Barzu kearah sebaliknya. Aku berkeliling di sekitar tempat parkir bis namun tidak menemukan ide apapun kecuali mengamen di bis. Mungkin menyanyi lagu daerah lebih menarik daripada menyanyi lagu kebangsaan pikirku, hehe.
Tepat pukul 7.30 aku telah sampai di masjid terminal dan aku tidak melihat ada Barzu disekitar masjid. Aku cari-cari sambil menoleh kearah kerumunan orang di ujung jalan, namun aku tidak menemukannya. Akhirnya aku memutuskan untuk mencarinya di tempat kerumunan penumpang turun, karena tadi pagi dia bergerak kearah itu. Belum sempat aku melangkahkan kaki, Barzu telah datang sambil membawa segebok Koran. Dia berkata kalau menjual Koran ini adalah hal yang paling mungkin untuk dilakukan saat ini. Tanpa modal dan mudah menjualnya. Tanpa pikir panjang akupun menerima ajakannya dan mulai menjual Koran-koran yang ada di tanganku. Barzu berkata kepadaku bahwa sebaiknya kita berpencar, dan kembali ke masjid pada saat adzan dhuhur. Akhirnya kamipun berpencar. Aku menjual Koran ke para calon penumpang bis yang baru masuk terminal. Aku berkeliling sambil sedikit berteriak “koran….koran” di setiap tempat dan di setiap sudut yang aku datangi. Namun hingga mendekati dhuhur tiba baru 7 eksemplar yang terjual. Aku pun keluar dari bangunan terminal yang menjajakan di dekat tempat bis menurunkan penumpang. Hasilnya pun tidak lebih baik. Karena badanku terasa panas, perutku perih karena lapar mendera dan letih tak terkira, akupun beristirahat sejenak di pagar pembatas dekat masjid. Dalam hati aku berkata “andaikan sekarang aku di rumah, mungkin nasibku lebih baik dari ini. Mungkin aku hanya akan ke sawah membantu ayah, atau mungkin membantu ibu mencuci di tempat kerjanya atau malah aku ada di rumah membersihkan rumah sambil mendengarkan siaran radio favoritku.” Lagi-lagi pikiran yang melemahkan ku datang, aku harus mengusirnya sebelum pikiran itu merebut mimpi-mimpiku.
Belum selesai aku beristirahat, ada 2 orang yang menuju ke arahku dan berkata kasar kepadaku “hei kamu….ini daerah kita, kamu harus bayar kalau mau jualan disini” akupun kaget dan menjawab “maaf mas, saya disini cuma berjualan, saya hanya sebentar saja disini, hanya untuk mencari uang sekadarnya. Setelah itu saya akan pergi ke tempat lain” salah satu dari mereka berkata “oke kalau begitu, tapi serahkan uang hasil berjualan kamu hari ini, bayar Rp 500; per koran yang terjual” akupun berkata, “maaf mas, ini uang saya sendiri, saya mendapatkannya dengan cara halal, dan saya tidak akan menyerahkannya” lalu tanpa basa basi kedua orang itu menyerangku. Mereka menghantam pipi kiriku dengan kepalan tangannya yang besar. Yang satu lagi menghantam perutku sebelah kanan. Lalu salah satu dari mereka menendang perutku hingga aku terjatuh ke tanah. Koran-koran yang aku bawa berserakan, bahkan sebagian telah rusak karena aku pakai untuk menangkis serangan mereka. Belum puas, merekapun menginjak-injak Koran-koranku hingga rusak semuanya. Ketika mereka akan menginjak lagi perutku, ada bunyi peluit dari petugas keamanan terminal. Mereka melarikan diri saat itu juga. Kedua orang itupun berlari tak tentu arah. Aku yang masih kesakitan hanya bisa duduk dan menahan perih di pipi dan di perutku. Aku melihat perutku terdapat luka lebam kemerah-merahan dan di hidungku juga mengeluarkan sedikit darah. Aku hanya bisa pasrah dengan kondisiku saat itu. Aku hanya duduk terdiam sambil menahan perih ketika petugas keamanan terminal datang menghampiri aku. Salah satu dari mereka berkata “disini dilarang berkelahi.. Ayo ikut ke kantor” dengan perasaan pasrah akupun digiring oleh petugas patroli ke kantor mereka dengan terlebih dahulu mengais sisa-sisa Koran yang masih lumayan bagus. Di kantor tersebut aku ditanya berbagai hal, dari nama, alamat rumah, umur, alasan berkelahi dan sebagainya. Dengan jujur aku menjawab semua pertanyaan mereka tanpa aku tutup-tutupi sedikitpun. Mungkin karena kasihan dengan kondisiku saat itu mereka akhirnya melepaskanku setelah mereka menulis lengkap berbagai hal tentang diriku.
Adzan dhuhur telah usai 30 menit yang lalu, sholat dhuhur berjamaah juga telah usai. Terhuyung-huyung aku berjalan kearah masjid. Di jalan sekitar masjid aku masih melihat sisa-sisa Koran berserakan, semua Koran itu sudah rusak dan tidak mungkin agen Koran mau menerima Koran rusak itu. Akupun pasrah dengan nasibku ini, aku tidak tahu harus mengganti dengan apa nanti. Setelah sampai masjid aku mengambil air wudhu, aku ingin segera sholat dan mengadu semua masalahku kepada yang Diatas. Aku ingin mengadu mengapa aku yang tidak bersalah bisa bernasib seperti ini, mengadu tentang ketidakadilannya dengan semua ini, mengadu tentang mimpi-mimpiku dan cobaan-cobaan yang begitu berat menghalanginya, dan mengadu supaya hari ini ada rezeki yang bisa dimakan. Tak terasa airmataku keluar waktu mengadu kepada-Nya, airmata kekecewaan, airmata kesengsaraan dan airmata kesedihan. Sungguh aku tidak pernah menyangka, hal seperti ini akan terjadi kepadaku.
Selesai mengadu, aku mengusap mataku yang basah dengan airmata. Airmataku cukup banyak kali ini. Sehingga orang di samping kanan-kiriku melihatku dengan wajah heran. Aku sudah tidak peduli dengan mereka, juga tidak peduli dengan keadaanku. Setelah selesai aku menemui Barzu yang dari tadi sudah menungguku di serambi masjid. Aku belum sempat bercerita tentang kejadian yang baru aku alami, namun Barzu memulai pembicaraan lebih dahulu. “Hari ini hampir semua koranku laku, aku tahu yang terjadi dengan kamu tadi siang. Setelah ini mari kita sama-sama menyetorkan hasil kita hari ini. Namun sebelumnya makanlah ini, mungkin ini bisa menahan lapar kita untuk sementara” Barzu mengeluarkan 2 buah roti lapis. Roti itu dia beli di warung kopi di pojokan pintu keluar terminal. Rasanya sungguh nikmat roti ini. Luar biasa nikmatnya. Aku bahkan tidak bisa menceritakan betapa nikmat roti ini, karena memang rotinya yang nikmat atau karena aku benar-benar lapar. Semua menjadi kabur. Aku bersyukur kepada Allah ada teman seperti Barzu yang dia tunjuk untuk menjadi penolongku.
Setelah selesai kami menghabiskan roti itu, kami pun menuju ke kios Koran yang mempercayakan korannya kepada kami. Dia lalu menghitung uang yang harus kami setorkan, dan kami harus menyetor Rp 60.000; sesuai dengan jumlah Koran yang kami ambil hari itu. Aku sempat bingung dengan keadaan ini. Karena uang hasil berjualan Koran yang aku dapat jauh dari jumlah itu. Akhirnya aku mengeluarkan cadangan uang mengamen di bis tadi malam, uang itu juga belum cukup. Akupun berniat untuk meminta maaf kepada pemilik dan berkata bahwa besok akan aku ganti dengan berjualan Koran lagi. Belum sempat aku berbicara Barzu sudah berbicara kepada pemilik kios bahwa setoran kami hari ini lunas dan dia berkata besok akan menjual Koran lagi. Ternyata Barzu membayarkan kekurangan setoranku dengan uang hasil berjualan korannya hari ini. Sungguh dia adalah teman yang sangat luar biasa. Beruntung aku bisa mengenal orang sebaik ini.
***

Nuansa 3 Pelangi (bagian 4)

Tidak terasa bis mulai meninggalkan kota Gresik dan masuk wilayah Kota Surabaya. Waktu telah menunjukkan pukul 23.30 wib, sudah ada beberapa penumpang yang terkantuk-kantuk di bangku mereka, bahkan sudah ada juga yang tertidur dan bersandar dengan orang di sampingnya yang tertidur pula. Suasana terasa agak senyap, namun kondektur dan sopirnya masih terjaga sambil mengobrol berdua untuk mengusir rasa kantuk yang mulai menyerang. Dan aku, masih bertahan disini di pintu belakang sambil bersandar di pipa besi pintu tidak merasakan kantuk sedikitpun karena pikiranku masih terjaga dan melayang membayangkan apa yang akan aku lakukan setelah ini, besok dan seterusnya untuk bertahan hidup. Pikiranku melayang-layang mencari mimpinya yang belum ketemu, melayang-layang mencari jati dirinya yang belum ketemu dan melayang-layang mencari arti hidup yang sebenarnya.
Tepat pukul 23.55 wib bis telah sampai di Terminal Purabaya Surabaya, terminal terakhir bis ini. Semua orang telah bangun dan bersiap-siap akan turun sambil memeriksa barang-barang bawaanya. Aku masih berdiri, tidak ada niat turun dari bis walaupun orang-orang lalu-lalang turun di depanku. Aku terdiam di bis karena aku bingung, pikiranku melayang tidak karuan karena membayangkan akan tidur dimana malam ini. Setelah penumpang bis tinggal beberapa orang, aku melihat di sudut bangku tengah ada seorang anak yang tidak beranjak juga dari tempat duduknya, dia menoleh ke kanan ke kiri tanpa tahu apa yang dipikirkan. Sepertinya dia bernasib sama seperti aku, baru datang ke Surabaya dan tidak tahu apa yang akan dilakukan. Setelah semua penumpang termasuk kondektur dan sopir telah turun, yang ada di dalam bis itu tinggal aku dan anak laki-laki tadi. Dia memandang wajahku dari kejauhan dengan wajah tanda tanya dan akupun memandang wajahnya. Dia tersenyum akupun ikut tersenyum. Akhirnya aku menuju ke bangkunya, aku mengulurkan tangan dan berkata “Hai, aku Syakir. Senang berkenalan denganmu” diapun menjawab dengan suara sedikit serak “Hai juga, aku Barzu. Senang berkenalan denganmu juga”. Dari pembicaraan setelah perkenalan ini akhirnya aku tahu kalau Barzu berasal dari kota Solo, dia adalah anak tunggal sekaligus yatim piatu, ayahnya meninggal 2 tahun yang lalu karena kanker dan ibunya baru meninggal 1 bulan yang lalu karena kecelakaan sewaktu pulang kerja. Akhirnya dia dititipkan ke pamannya yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Paman ini adalah Adik dari ayahnya. Pamannya sangat baik kepadanya, dia diumpamakan anaknya sendiri karena pamannya memang belum mendapat anak setelah 3 tahun menikah. Dan pamannya sangat suka kepadanya karena Barzu adalah anak yang rajin, Barzu sering mencuci baju keluarga pamannya, mengepel rumah, membersihkan rumah dan sebagainya. Sebenarnya hal itu tidak masalah bagi dia, karena bagi dia itu hal yang wajar karena dia statusnya menumpang di rumah pamannya, namun yang dia pikirkan adalah masa depan dia. Akan menjadi seperti apa dia kalau seterusnya seperti ini. Akhirnya dia memberanikan diri untuk meminta ijin pergi dari rumah setelah 1 bulan tinggal bersama pamannya, awalnya pamannya tidak setuju karena masa depannya menjadi sangat tidak pasti diluar sana. Namun setelah pembicaraan yang cukup panjang akhirnya pamannya mengijinkan dia meninggalkan rumah. Dan pamannya berpesan kalau nanti seumpama ingin kembali ke rumah maka jangan sungkan-sungkan untuk kembali. Dan Barzu pun mengatakan dalam hati saya berusaha tidak akan kembali sebelum saya berhasil.
Dari pembicaraan dengan dia, aku sadar Barzu adalah anak yang memiliki keistimewaan. Tingginya sekitar 170 cm, berbadan tegap seperti tentara, kalau berbicara seperti seorang komandan sedang memimpin pasukan, sangat berwibawa dan tegas, namun umurnya baru 17 tahun, 1 tahun lebih muda dari aku. Aku berpikir mungkin keadaan dan segala cobaan yang menderanya yang membuat dia jadi seperti ini. Bahkan dia masih bisa tertawa lepas ketika ada sesuatu yang lucu. Benar-benar anak yang luar biasa, seperti orang yang tidak punya beban hidup, padahal dia sudah tidak punya orang tua yang akan selalu merindukannya, tidak punya apa-apa yang dapat dibanggakan dan tidak punya saudara kandung yang dapat membantunya dalam kesulitan. Dia tidak punya apa-apa, tidak punya siapa-siapa, yang dia punya hanya keyakinan di dalam dirinya sendiri. Keyakinan bahwa semua pasti ada jalan bagaimanapun terjalnya tujuan itu. Keyakinan yang kuat yang membakar hatinya untuk selalu tegar dengan segala cobaan yang menerpa. Keyakinan yang selalu membakar semangatnya untuk terus berjuang meraih cita-citanya.
Malam itu kami bercerita banyak hingga lewat jam 02.00 wib, akhirnya kamipun memilih tidur beralas lantai yang dingin di serambi masjid yang ada di Terminal Purabaya bersama dengan belasan orang lainnya yang sudah tertidur. Malam ini aku akan tidur ditemani bintang-bintang. Bintang-bintang seakan bernyanyi kepadaku, bernyanyi tentang indahnya malam ini, bernyanyi kepada bulan yang bersinar terang dan bernyanyi kepada bumi agar menjaga aku dalam tidurku.

Kamis, 10 Februari 2011

Nuansa 3 Pelangi (Bagian 3)

Sebagai seorang pemuda, aku tidak kehabisan akal untuk dapat tumpangan gratis hingga ke Surabaya. Dari rumah aku telah siap dengan alat saktiku yang bisa aku gunakan untuk mencari uang plus dapat tumpangan gratis, yaitu ecek-ecek. Aneh memang namanya, nama ini diambil dari bunyi yang dihasilkan dari alat ini. Untuk membuatnya juga cukup mudah tinggal menyusun beberapa buah tutup botol yang telah di bentuk lempengan, disatukan dan di paku pada batang bambu. Dan ketika di gerakkan akan menghasilkan bunyi ecek-ecek, karena hasil tumbukan antara lempeng yang satu dengan lempeng yang lain. Dengan alat ini aku akan membawakan beberapa lagu untuk para penumpang bis. Aku tidak tahu berapa lagu yang akan aku bawakan, karena aku belum pernah tahu berapa lama bis ini akan membawaku hingga ke Surabaya.
Aku menunggu bis tepat disamping warung kopi yang buka hingga pagi hari. Cahayanya remang-remang karena hanya ada 1 lampu bertengger di atas gubuk. Cukup ramai suasana di warung kopi itu. Ada yang main catur, ada yang menonton acara TV, ada yang berbincang-bincang sambil ngobrol ada yang tidur-tiduran di kursi dan sebagainya. Lama aku perhatikan mereka, terbersit rasa iri kepada mereka. Iri mengapa mereka yang rata-rata hanya menjadi tukang ojek atau tukang becak, makan tidak tentu namun hidup mereka serasa bahagia tanpa beban. Iri dengan canda tawa mereka yang begitu lepas dan tanpa beban. Iri dengan mereka yang seakan-akan tiada beban hidup tiap hari dan iri mengapa mereka begitu bahagia dengan kemiskinan yang mendera mereka. Tanpa sadar airmataku meleleh, karena membayangkan nasib yang akan aku jalani, mengingat ini adalah perjuangan hidupku untuk merubah segalanya. Merubah nasib kedua orang tuaku, merubah nasib anak dan istriku nanti dan tentu saja merubah nasibku sendiri. Airmataku meleleh bukan karena aku takut akan kesengsaraan yang akan aku jalani, atau takut dengan kegagalan yang bisa terjadi padaku, namun yang membuat airmataku meleleh adalah bayangan kebahagiaan kedua orang tuaku nanti ketika aku pulang dan mampu mengangkat derajat mereka. Itu adalah airmata kebahagiaan, airmata harapan dan airmata kesuksesan. Karena aku akan berusaha selalu optimis, di dalam keadaan yang bagaimanapun.
***
Setelah menunggu sekitar 45 menit akhirnya bis yang aku nanti-nantikan datang. Didalam bis terlihat sangat padat oleh penumpang, ada beberapa penumpang yang berdiri ada pula beberapa penumpang yang bersandar di dekat pintu keluar bis. Mungkin ini adalah bis terakhir untuk hari ini, karena waktu telah menunjukkan pukul 22.10 wib, dan aku rasa sudah tidak ada lagi bis untuk malam ini. Bis inilah gerbang mimpiku, gerbang yang akan menunjukkan kepadaku indahnya mimpi dan kerasnya jalan yang akan aku jalani untuk meraih mimpi itu. Bagiku bis ini adalah bis harapan, harapan untuk merubah segalanya, harapan yang akan membawa mimpiku terbang jauh dan menemui kenyataan, dan memang nama bis ini adalah Harapan Jaya. Dan bis ini juga bis perubahan, perubahan dari aku yang hanya anak desa lulusan SMA akan menuju kota besar dan menantang nasib. Tanpa bekal apapun, tanpa petunjuk siapapun aku sendirian menempuh bahaya ini. Andaikan aku gagal, selamanya aku tidak akan pulang, itulah janjiku, janji yang tiap waktu selalu menghantui ku untuk selalu berusaha keras agar tidak ada kata gagal dalam pikiran dan segala tindakanku.
Bis mulai melaju membelah dinginnya malam. Dan akupun bersiap-siap untuk bernyanyi diantara kerumunan orang di dalam bis. Ini adalah pertama kalinya aku bernyanyi untuk tujuan mencari uang, sebelumnya aku memang sering bernyanyi, namun itu bernyanyi menjadi paduan suara dan koor di SMA. Sungguh ini diluar nalarku sendiri, aku sama sekali tidak tahu lagu-lagu yang pop ataupun lagu yang trend saat ini, yang aku tahu hanya lagu-lagu kebangsaan, lagu-lagu daerah dan tembang-tembang jawa yang biasa aku dengarkan di RRI. Aku baru sadar ketika di dalam bis bahwa sungguh sangat lucu ketika ada seorang pengamen membawakan lagu kebangsaan atau lagu-lagu daerah. Aku membayangkan bagaimana respon mereka terhadap laguku, apa mereka akan terenyuh atau bahkan malah tertawa terpingkal-pingkal karena tidak cocoknya situasi dan keadaan antara laguku dengan keadaan bis. Lama aku termenung membayangkan ini sambil memegang ecek-ecek di tangan, dan sudah banyak orang juga yang melihatku dengan terheran-heran, mungkin mereka tidak sabar untuk menanti aku bernyanyi untuk menghilangkan kejenuhan di dalam bis ini. Akhirnya akupun memberanikan diri, walaupun sebenarnya hal ini sangat memalukan bagiku, inilah hal gila pertama yang aku lakukan.
Indonesia..tanah airku….Tanah tumpah darahku….
Disanalah aku berdiri bagi pandu ibuku…dst.

Aku yang bersuara parau bernyanyi lagu Indonesia Raya dengan lantang tanpa malu-malu, langsung secara serempak semua orang di dalam bis melihat ke arahku, tidak terkecuali sopir bis yang tiba-tiba melambatkan laju bis untuk merekam dalam memori otaknya wajah bodohku saat itu. Hingga lagu Indonesia Raya hampir selesai suasana di dalam bis masih senyap, yang terdengar hanya bunyi mesin bis dan kendaraan lalu lalang. Tidak ada bunyi orang berbincang-bincang dan berbisik-bisik, pikirku mereka terenyuh dengan suaraku yang indah. Akupun melihat beberapa orang masih memandangku dengan wajah bodoh terheran-heran. Dan ketika lagu Indonesia Raya selesai tiba-tiba suasana berubah drastis, semua orang di dalam bis tertawa terpingkal-pingkal, tak terkecuali sopir bis dan kondekturnya. Semua orang tertawa hingga ada yang menggedor-gedor bangku dan menggedor-gedor dinding bis karena terbawa tertawaannya yang membuat sakit perut. Sungguh inilah hal gila dalam hidupku yang pernah aku alami, membuat malu diriku sendiri dihadapan semua penumpang bis, tidak hanya penumpang, sopir dan kondektur bis juga. Tapi apa mau dikata, semua sudah terjadi dan mimpiku masih terlalu besar kalau dibandingkan dengan hal gila ini. Jadi aku harus berpikiran optimis, mungkin ini cobaan pertamaku.
Tanpa pikir panjang aku bergegas menuju ke bangku terdepan dan menyodorkan tas yang aku bawa yang sudah aku buka resletingnya agar orang-orang dapat memberi sedikit rejeki mereka buatku. Ada yang memberi permen, ada yang memberi rokok, ada yang memberi uang receh ada juga yang memberi uang kertas seribuan. Mereka memberikan semua itu kepadaku tetap dalam keadaan tertawa tidak berubah. Hanya mungkin ada beberapa orang yang telah berhenti tertawa karena perutnya jadi sakit karena kebanyakan tertawa, wajahnya jadi lucu karena cengar-cengir menahan sakit di perutnya, giliran aku yang tertawa dalam hati melihat kejadian itu. Gantian, itu akibat kalau menertawai orang yang sudah susah, hahaha.
Setelah selesai meminta belas kasihan penumpang dari bangku ke bangku aku menghitung uang yang aku dapat di dekat pintu belakang sambil bersandar di pipa besi pengaman pintu. Tidak kusangka, walaupun banyak yang tertawa dengan lagu yang aku bawakan, ternyata banyak juga hasilku untuk menyanyi pertama kalinya ini. Total ada Rp 12.650, 3 batang rokok, 1 tissu, dan 9 permen. Alhamdulillah, aku bersyukur dengan hasil pertamaku ini, toh sebenarnya niat pertamaku melakukan ini adalah untuk mendapatkan tumpangan gratis hingga ke Surabaya.

Nuansa 3 Pelangi (Bagian 2)

2 tahun yang lalu setelah aku lulus dari SMA dengan nilai yang sangat memuaskan, aku berencana melanjutkan kuliah di Kota Surabaya dengan biayaku sendiri. Berbekal informasi dari seorang teman tentang Universitas-universitas favorit di Surabaya aku memberanikan diri untuk pergi ke Surabaya tanpa uang saku sedikitpun. Kepada ayah dan ibuku aku berbohong bahwa aku telah diterima di sebuah universitas negeri lewat program beasiswa dan mendapat jaminan uang saku tiap bulan. Dengan berkata seperti ini akhirnya dengan berat hati mereka rela melepas aku dan tak lupa mereka mencium keningku, dan mendoakan agar Allah selalu memberi petunjuk kepadaku. Ayah dan ibuku tidak memberi uang saku sedikitpun karena memang mereka sedang tidak ada uang, ayah belum ada garapan selama 2 minggu ini dan ibu belum gajian, jadi aku berbohong lagi kalau aku sudah siap dengan uang saku yang cukup dari hasil tabunganku, padahal aku tidak punya uang sedikitpun. Uang hasil tabungan telah habis untuk membayar biaya ujian akhir dan sebagainya. Aku sadar aku telah berbohong kepada mereka, namun aku yakin masa depanku bukan disini, bukan untuk menjadi buruh tani dan bukan juga menjadi buruh cuci, tapi masa depan ada di tempat nun jauh disana dan aku harus berani meraihnya.
Malam itu juga setelah selesai shalat Isya, aku telah siap berangkat ke Surabaya, berbekal tas sekolah waktu SMA yang berisi 2 buah kaos, 1 sarung dan sajadah, aku siap menjemput mimpiku. Dingin dan gelapnya malam tidak sedikitpun menyurutkan niatku. Untuk keluar ke jalan besar aku harus berjalan kaki menempuh jarak 10 KM dan tidak ada penerangan sedikitpun, hanya sinar bulan yang saat itu sedang purnama yang selalu menerangi jalanku. Sejujurnya ada rasa sedikit was-was dan takut melakukan perjalanan malam ini, banyak kabar kalau di jalan yang aku lalui ini sering terjadi perampokan dan pernah juga terjadi pembunuhan di jalan ini. Itu terjadi 3 tahun yang lalu dan beritanya di ekspos hingga ke Koran nasional karena korbannya adalah anggota DPR. Mungkin pembunuhan ini bermotif politik, tapi hingga saat ini kasus itu belum juga terungkap.
Hampir 2 jam telah aku lalui dan lampu-lampu jalan raya telah terlihat, senang rasanya karena horror jalan ini akan segera usai. Beberapa menit kemudian aku telah sampai di tepi jalan raya. Aku menunggu bis antar kota jurusan Semarang-Surabaya menurut informasi dari seorang teman. Sebelumnya aku tidak pernah melakukan perjalanan sejauh ini, paling jauh hanya ke kota Babat yang hanya berjarak 25 KM dari Lamongan. Ini adalah perjalanan jauhku yang pertama, ditambah dengan tanpa membawa uang sama sekali. Sungguh ini merupakan awal yang cukup berat bagiku, ada keinginan untuk kembali lagi dan berkata jujur kepada orang tua tentang semua kebohongan ini, namun dorongan untuk meraih mimpi lebih kuat dan memakan keinginan ku untuk kembali ke rumah.

Sabtu, 05 Februari 2011

Nuansa 3 Pelangi (Bagian 1)

Chapter I
Berlari Mengejar Impian
Bzzz……Bzzzz……Bzzz……
Suara bising mesin pembersih lantai membangunkan aku yang tertidur lelap pagi ini. Aku melihat arloji di tangan kananku dan telah menunjukkan pukul 4.30 pagi. Masih sangat pagi pikirku untuk bangun. Namun apa mau dikata aku harus bangun sekarang, atau banyak orang yang akan melihatku dengan perasaan aneh karena tadi malam aku tidur di kursi ruang tunggu Kuala Lumpur International Airport. Hari kemarin aku sempat kebingungan, setelah turun dari pesawat hal pertama yang aku pikirkan adalah tempat untuk tidur malam ini, karena aku bertekad tidak menginap di penginapan, toh hanya 1 malam saja. Dari Indonesia aku hanya membawa uang saku 400 uero dan 200 ringgit, sedangkan perjalananku masih jauh dan uang itu harus cukup untuk bertahan hidup selama 5 tahun di China, Negara dimana aku akan mengadu nasib disana. Uang saku itu adalah uang hasil jerih payah ku selama 1 tahun berjualan nasi uduk di perempatan jalan Ahmad Yani Surabaya tiap pagi. Untuk melayani para pembeli yang rata-rata pekerja kantoran yang tidak sempat sarapan di rumah.
Tadi malam ini aku tertidur cukup lelap, kerasnya kursi waiting room tidak menyusutkan pandangan mataku untuk tetap terpejam. Perjalanan jauh dari Surabaya ke Kuala Lumpur ternyata cukup melelahkan karena pesawat sempat delay hingga 8 jam sedangkan ini adalah pertama kalinya aku naik pesawat, sehingga sangatlah terasa lelahnya perjalanan yang hanya memakan waktu 2.5 jam ini.
Di Malaysia ini aku berencana mengunjungi kawan lama, kami dulu adalah sepasang teman dekat sewaktu duduk di bangku SMA. Sekarang dia sedang menempuh kuliah S2 nya di salah satu universitas ternama di Kuala Lumpur. Dulu kami adalah 2 orang murid terpandai di kelas, kalau semester ini dia rangking 1 semester depan giliran aku yang meraih rangking 1. Begitu seterusnya, kami saling berlomba untuk menjadi yang terbaik. Dan disaat ada olimpiade MIPA tingkat kabupaten kami berada dalam 1 tim dan berhasil merebut juara 2. Setelah itu kami lolos di tingkat Propinsi tapi sayang kami belum mendapatkan posisi 5 besar. Namun, hal itu merupakan prestasi yang membanggakan kami saat itu. Dimana kami hanya 2 orang anak desa, yang minim dengan segala fasilitas ternyata mampu masuk dalam final olimpiade MIPA tingkat propinsi. Namun itu hanya cerita indah masa lalu, sekarang aku harus bisa menghadapi kenyataan. Selepas SMA Dimas ikut dengan orang tuanya yang menjadi TKI di negeri jiran sedangkan aku terpaksa harus mengubur semua impian ku untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi lagi. Ayahku hanya buruh tani pedesaan di Lamongan sedangkan ibuku hanya seorang buruh cuci di sebuah rumah milik seorang saudagar. Hal inilah yang membuat aku tidak tega untuk meminta uang kepada mereka untuk membiayai kuliah ku di Surabaya.

Belajar membuat novel

Kali ini saya akan belajar membuat sebuah novel. Novel ini terinspirasi dari pengalaman pribadi saya. Semoga tulisan ini dapat menghibur para pembaca sekalian. Mohon saran dan kritik...

Terima kasih

Jual Jamur wilayah Surabaya-Sidoarjo-Gresik (siap antar)

Penawaran Jamur Tiram Segar ( hasil budidaya Pacet-Mojokerto)
"PLANET JAMUR"


No. Order(minimum of quantity) Harga per-Kg keterangan
1 20kg Rp10.000 pengiriman ke Surabaya
2 10kg Rp11.000 pengiriman ke Surabaya
3 5kg Rp13.000 pengiriman ke Surabaya
4 kurang dari 5kg Rp14.000 pengiriman ke Surabaya

Harga sudah termasuk ongkos kirim. Untuk pemesanan Kontinyu harga bisa nego. Info lebih lengkap hubungi Faisol: 0857 5565 8349

Kamis, 15 April 2010

Tragedi Tanjung Priok, Jakarta, 1984

Tragedi Tanjung Priok, Jakarta, 1984

Sebagai anak yang lahir dan dibesarkan di tanjung Priok, tentu tidak akan pernah melupakan peristiwa tragis dan berdarah ini. Beberapa teman, tetangga dan seorang ustadz keturunan bugis, yang juga tetangga, turut menjadi korban atas kebiadaban dan kerakusan akan kekuasaan Orde baru. Semoga tidak akan pernah terulang lagi di masa datang………

Senin, 10 September 1984. Seorang oknum ABRI beragama Katholik, Sersan Satu Hermanu, mendatangi mushala As-Sa’adah untuk menyita pamflet berbau ‘SARA’. Namun tindakan Sersan Hermanu sangat menyinggung perasaan ummat Islam. Ia masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, menyiram dinding mushala dengan air got, bahkan menginjak Al-Qur’an. Warga marah dan motor motor Hermanu dibakar. Buntutnya, empat orang pengurus mushala diciduk Kodim. Upaya persuasif yang dilakukan ulama tidak mendapat respon dari aparat. Malah mereka memprovokasi dengan mempertontonkan salah seorang ikhwan yang ditahan itu, dengan tubuh penuh luka akibat siksaan.

Rabu. 12 September 1984. Mubaligh Abdul Qodir Djaelani membuat pernyataan yang menentang azas tunggal Pancasila. Malamnya, di Jalan Sindang, Tanjung Priok, diadakan tabligh. Ribuan orang berkumpul dengan semangat membara, disemangati khotbah dari Amir Biki, Syarifin Maloko, Yayan Hendrayana, dll. Tuntutan agar aparat melepas empat orang yang ditahan terdengar semakin keras. Amir Biki dalam khotbahnya berkata dengan suara bergetar, “Saya beritahu Kodim, bebaskan keempat orang yang ditahan itu sebelum jam sebelas malam. Jika tidak, saya takut akan terjadi banjir darah di Priok ini”. Mubaligh lain, Ustdaz Yayan, bertanya pada jamaah, “Man anshori ilallah? Siapa sanggup menolong agama Allah ?” Dijawab oleh massa, “Nahnu Anshorullah ! Kami siap menolong agama Allah !” Sampai jam sebelas malam tidak ada jawaban dari Kodim, malah tank dan pasukan didatangkan ke kawasan Priok. Akhirnya, lepas jam sebelas malam, massa mulai bergerak menuju markas Kodim. Ada yang membawa senjata tajam dan bahan bakar. Tetapi sebagian besar hanyalah berbekal asma’ Allah dan Al-Qur’an. Amir Biki berpesan, “Yang merusak bukan teman kita !”

Di Jalan Yos Sudarso massa dan tentara berhadapan. Tidak terlihat polisi satupun, padahal seharusnya mereka yang terlebih dahulu menangani (dikemudian hari diketahui, para polisi ternyata dilarang keluar dari markasnya oleh tentara). Massa sama sekali tidak beringas. Sebagian besar malah hanya duduk di jalan dan bertakbir. Tiba-tiba terdengar aba-aba mundur dari komandan tentara. Mereka mundur dua langkah, lalu … astaghfirullah ! Tanpa peringatan terlebih dahulu, tentara mulai menembaki jamaah dan bergerak maju. Gelegar senapan terdengar bersahut-sahutan memecah kesunyian malam. Aliran listrik yang sudah dipadamkan sebelumnya membuat kilatan api dari moncong-moncong senjata terlihat mengerikan. Satu demi satu para syuhada tersungkur dengan darah membasahi bumi. Kemudian, datang konvoi truk militer dari arah pelabuhan, menerjang dan melindas massa yang tiarap di jalan. Dari atas truk, orang-orang berseragam hijau tanpa nurani gencar menembaki. Tentara bahkan masuk ke perkampungan dan menembak dengan membabi-buta. Tanjung Priok banjir darah.

Pemerintah dalam laporan resminya yang diwakili Panglima ABRI, Jenderal L. B. Moerdani, menyebutkan bahwa korban tewas ‘hanya’ 18 orang dan luka-luka 53 orang. Namun dari hasil investigasi tim pencari fakta, SONTAK (SOlidaritas Nasional untuk peristiwa TAnjung prioK), diperkirakan sekitar 400 orang tewas, belum terhirung yang luka-luka dan cacat. Sampai dua tahun setelah peristiwa pembantaian itu, suasana Tanjung Priok begitu mencekam. Siapapun yang menanyakan peristiwa 12 September, menanyakan anak atau kerabatnya yang hilang, akan berurusan dengan aparat.

Sebenarnya sejak beberapa bulan sebelum tragedi, suasana Tanjung Priok memang terasa panas. Tokoh-tokoh Islam menduga keras bahwa suasana panas itu memang sengaja direkayasa oleh oknum-oknum tertentu dipemerintahan yang memusuhi Islam. Terlebih lagi bila melihat yang menjadi Panglima ABRI saat itu, Jenderal Leonardus Benny Moerdani, adalah seorang Katholik yang sudah dikenal permusuhannya terhadap Islam. Suasana rekayasa ini terutama sekali dirasakan oleh ulama-ulama di luar tanjung Priok. Sebab, di kawasan lain kota Jakarta sensor bagi para mubaligh sangat ketat. Namun entah kenapa, di Tanjung Priok yang merupakan basis Islam itu para mubaligh dapat bebas berbicara bahkan mengkritik pemerintah, sampai menolak azas tunggal Pancasila. Adanya rekayasa dan provokasi untuk memancing ummat Islam dapat diketahui dari beberapa peristiwa lain sebelum itu, misalnya dari pembangunan bioskop Tugu yang banyak memutar film maksiat diseberang Masjid Al-Hidayah. Tokoh senior seperti M. Natsir dan Syafrudin Prawiranegara sebenarnya telah melarang ulama untuk datang ke Tanjung Priok agar tidak masuk ke dalam perangkap. Namun seruan ini rupanya tidak sampai kepada para mubaligh Priok. Dari cerita Syarifin Maloko, ketua SONTAK dan mubaligh yang terlibat langsung peristiwa 12 September, ia baru mendengar adanya larangan tersebut setelah berada di dalam penjara. Rekayasa dan pancingan ini tujuannya tak lain untuk memojokkan Islam dan ummatnya di Indonesia.

Diringkas dan diedit ulang dari Majalah Sabili dan Tabloid Hikmah
www.ummah.net/

Sabtu, 13 Februari 2010

Belajarlah Dari China

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China” demikian ucapan Nabo Muhammad SAW. Banyak hal yang bisa membuka mata kita bangsa Indonesia ketika berkunjung ke China. Hal-hal ini penulis temukan ketika (Alhamdulillah) berkesempatan mengunjungi Negeri Tirai Bambu kali ini. Penulis sempat membantu di dua NGO di Kota Tianjin. Dan sempat mengunjungi beberapa kota seperti Beijing dan Chengdu. Beberapa hal ini semoga menjadi renuangan kita semua.
1. Orang China itu workaholic, mereka dapat bekerja 18 jam dalam sehari. Itupun bekerja secara full, tidak setengah2. Jujur, penulis sampai kesulitan untuk menyesuaikan dengan budaya kerja ketika mengajar di NGO di Kota Tianjin. Benar2 luar biasa orang2 China. Bahkan, ada seorang teman (asli orang China) yang kuliah di Nankai University (Universitas terkenal di China) berkata kalau masa2 ujian kebanyakan mahasiswa hanya tidur selama 5 jam perhari, dan 19 jam hanya untuk belajar. Coba bandingkan dengan masyarakat kita, jangan jauh2 bandingkan dengan diri kita sendiri, apakah kita sanggup melalui proses seperti itu? Kebanyakan orang siap akan hasil tapi tidak siap akan prosesnya…..(termasuk penulis sendiri).
2. Jangan heran jika orang2 China kebanyakan memakai kacamata, apalagi kaum mahasiswa/ pelajar. Mereka pernah berkata bahwa hampir semua mahasiswa/ pelajar di China sangat hobi membaca, karena terlalu sering membaca akhirnya mata mereka menjadi agak rusak dan membutuhkan kacamata sebagai alat bantu. Di universitas2 di Indonesia (termasuk universitas saya) sangat jarang sekali mahasiswa yang memakai kacamata. Rata2 yang memakai kacamata adalah mahasiswa2 yang memang hobi membaca (yang kebanyakan memang orang2 keturunan China).
3. Di China acara2 televisi tidak semenarik dan sebagus di Indonesia. Penulis sudah membandingkan di tiga kota besar di China, dan hasilnya sama, keduanya tidak memiliki saluran televisi sebagus di Indonesia. Dan hal ini memang yang diharapkan oleh pemerintah China. Karena dengan “jeleknya” tayangan2 di televisi masyarakat China enggan untuk menonton TV. Selama 1 minggu ini penulis tinggal dengan keluarga China, TV hanya sempat dinyalakan 1 kali. Itupun tidak sampai 1 jam. Coba dibandingkan dengan minat menonton TV pada bangsa kita tercinta…….
4. Populasi penduduk China memang sangat besar, rata2 tiap kota besar memiliki 10-20 juta penduduk. Bandingkan dengan Jakarta atau Surabaya yang mungkin hanya memiliki 5-7 Juta penduduk. Dan jika hal ini tidak dikendalikan maka banyak kekacauan yang akan terjadi. 1 hal yang ingin penulis utarakan adalah tentang kebijakan berkendara. Di China semua sekolah baik TK sampai Perguruan Tinggi tidak diperbolehkan membawa kendaraan bermotor, dan ada 3 pilihan bagi mereka, jalan kaki, memakai kendaraan umum atau naik sepeda angin. Yang diperbolehkan membawa kendaraan bermotor hanya guru dan dosen. Jadi jangan heran disini banyak sekali orang yang memakai sepeda angin tua berkeliaran dijalan raya, karena memang disediakan jalan khusus bagi sepeda angin dan pejalan kaki. Selain itu, pemerintah juga menyediakan subway (kereta cepat bawah tanah), bus umum ke berbagai daerah yang benar2 nyaman, terawat dan murah.
5. Orang China tidak kenal gengsi. Pada saat pertama kali menginjakkan kaki ke Tianjin, selama 4 hari penulis menginap di penginapan yang ada disekitar Nankai University. Pemilik penginapan ini adalah seorang laki2 berumur sekitar 30 tahunan dan sudah berkeluarga. Yang bikin penulis kagum adalah pemilik penginapan ini menempati kamar sempit yang lebih kecil daripada penginapan yang dia sewakan. Dengan perabotan rumah yang seadanya dan ruang kerja yang menjadi satu dengan kamarnya, sungguh miris kalau melihat kondisinya. Padahal dia memiliki ratusan kamar di banyak penginapan di sekitar Nankai University, apalagi penginapan milik nya sangat ramai. Bahkan sulit untuk mencari kamar miliknya yang kosong. Penulis perkirakan, dalam sehari lebih dari 2 juta rupiah berhasil dia kantongi. Mengingat harga perkamar rata-rata 80 Yuan (1 Yuan = Rp 1400). Dan dia bisa hidup “layak” dengan uang sebanyak itu. Contoh lainnya, penulis sering diajak makan2 d restoran2 cukup mentereng dengan orang China. Dan ketika acara makan2 telah selesai, orang2 China tidak sungkan2 untuk membungkus makanan yang masih belum termakan. Dan itu terjadi di hampir semua orang China, tidak peduli dia kelas menengah atau kelas atas. Mereka tidak gengsi dengan hal itu, padahal kalau d Indonesia, saya tahu banyak orang akan gengsi melakukan hal itu. Karena dianggap memalukan.
6. Orang-orang China kekerabatannya sangat kuat. Rata2 mereka memilki teman yang sangat banyak. Selama disini penulis sangat sering diajak makan bersama dengan orang2 China. Dan biaya makan lebih sering ditanggung mereka daripada ditanggung patungan. Dan tidak jarang pula berawal dari acara makan2, akhirnya mereka punya kekerabatan yang erat dan berlanjut ke hubungan bisnis. Inilah salah satu alasan mengapa orang2 China di Indonesia sebagian besar berprofesi sebagai pengusaha dan hampir semuanya kaya.
7. Orang China sangat suka makan sayur, hampir di setiap menu makanan yang disajikan, sayuran selalu ada. Tidak pernah tidak. Bahkan dalam satu menu makanan ada berbagai macam sayur2an berbagai jenis. Ketika ditanya mengapa mereka sangat suka sayur, mereka selalu menjawab sayur baik untuk tubuh dan menjadikan daya tahan tubuh kuat. Maka jangan heran, dikala cuaca seperti sekarang ini yang -5°C ada beberapa orang yang berjalan2 sambil memakai kaos. Sakti memang orang ini, padahal pada saat itu penulis memakai atasan rangkap 4 dan bawahan rangkap 2, dan itupun masih terasa dingin.
Selain kelebihan sebenarnya ada juga beberapa kelemahan dari orang2 China, namun tidak etis kalau kita hanya mencari kelemahan2 itu untuk kemudian kita ungkit2 dan menjadikan justifikasi buat kita dan akhirnya kita tetap seperti ini dan tidak ada perubahan. Ada pepatah mengatakan, “Berubahlah atau mati”.

Hari Baru Dimulai

Kamis, 21 Januari 2010
Sekitar pukul 5.30 aq bangun tidur, udara terasa dingin walaupun ada heater, dan langitpun masih sangat gelap (seperti pukul 04.00 kalau di Indonesia). Akhirnya aq bangun dan mengambil air wudhu dan shalat subuh sedangkan Diera masih tertidur pulas di tempat tidur. Karena udara masih dingin dan cuaca sangat gelap, aq memutuskan untuk tidur lagi. Jam 9.00 aq terbangun, karena ada suara berisik dari Diera yang bangun dan membuka jendela. Sinar matahari pun masuk ke kamar kami. Aq bangun dan membuka laptop untuk menulis kisah perjalananq kembali. Ketika asyik bermain laptop, pukul 9.30 pintu penginapan kami diketuk seseorang. Kami tahu bahwa ada yang akan menjemput kami, tapi kami tidak tahu siapa yang akan menjemput kami, karena Seven tidak bilang apa2 kepada kami. Aq membuka pintu dan ternyata ada seorang wanita yang aq tahu bernama Shanya, dia mahasiswa Nankai University jurusan Finance. Karena aq dan Diera baru saja bangun, kami berdua sangat kaget karena belum ada persiapan sama sekali untuk packing dan perlu diketahui, pakaian kami masih berserakan, tadi malam juga sempet mencuci pakaina, jadi masih ada celana dalam2 kami yang tergantung di atas heater, waduh malunya…
***
Waktu menunjukkan pukul 10.15, kami telah siap untuk berangkat. Namun Shanya menyampaikan berita duka, bahwa untuk mala mini kami belum dapat tinggal d home stay karena pemilik rumah masih ujian akhir. Wah, berita ini sungguh memukul kami. Karena biaya penginapan disini cukup untuk menguras kantong kami. Akhirnya aq berkata pada Shanya kalo kami tidak punya uang banyak, tidak bisakah kami menginap di tempat yang gratis? Lalu Shanya bilang dia tidak tahu apa2 karena keputusan ini juga mendadak. Akhirnya kami tidak punya pilihan lain, kami mengikuti apa yang Shanya mau.
Kami lalu berjalan menuju rumah pemilik penginapan untuk meminta tambahan waktu satu malam lagi. Tapi ternyata pemilik kamar berkata bahwa kamar yang kami tempati sudah dipesan oleh orang lain. Dan pemilik penginapan menyuruh kami memilih 2 kamar. Yang seharga 50 Yuan dengan fasilitas kamar besar tanpa TV dan 60 Yuan, kamar ukuran kecil, TV dan ada sambungan internetnya. Akhirnya kami sepakat memilih yang 60 Yuan karena ada sambungan internet, kami sangat butuh sambungan ini. Karena banyak hal yang ingin kami kirim ke teman2 kami. Dan untuk aq pribadi, aq ingin mengirim email ke orang tua dan riaziaulfah, (maklum anak muda) hehe..
Akhirnya untuk kesekian kalinya kami gotong-gotong “mortar” kami yang super berat.

Welcome To Beijing

20 Januari 2010
Awalnya aq bingung, siapa orang yang pagi2 buta begini membangunkan orang tidur. Karena ketukannya tidak juga berhenti, akhirnya aq membuka pintu kamar. Dan aq kaget setengah mati karena yang ada di depanku adalah laki2 penjemput motel, yang membuat aq kaget bukan karena orangnya, tapi wajahnya mengingatkan aq kalau aq ada penerbangan pagi hari ini. Dan aq lihat jam tanganq, ternyata jadwalq telah terlambat 15 menit. Akhirnya aq membangunkan Diera dan langsung menyuruh dia bersiap2, tanpa shalat Subuh terlebih dahulu (semoga Allah memaafkan aq, karena waktu sangat mepet. Toh aq msh sempat shalat di pesawat). Akhirnya aq dan Diera telah siap, kami menunggu di lobi motel.tapi orang laki2 itu tidak ada, yang ada hanya seorang wanita paruh baya yang telah siap menunggu diantar ke bandara. Orang laki2 yang membangunkan kami tadi ternyata sedang mengantar tamu motel yang lain menuju bandara, 5 menit kemudian laki2 itu datang dengan mobil sedan mitsubishinya. Kami dan wanita itupun diantar hingga ke pintu masuk Chengdu Shangliu Int’l Airport. Jujur, aq sangat terkesan dengan semangat, kejujuran, kebaikan dan kemurah hatian laki2 ini, sempat terpikir untuk member dia tip 10 Yuan, tapi aq pikir2 uangq sedikt jadi yang bisa aq lakukan hanya bersalaman dengan dia dan berkata “xie xie” (terima kasih).
Setelah masuk bandarakami secepatnya chen in, karena kami agak terlambat kami sangat terburu2 untuk melakukan chek in. setelah bertanya pada meja informasi, kami disuruh antri dari pintu 36-47. Yang ternyata semuanya sedang antri panjang. Tidak berapa lama, kamipun chek in dan lega rasanya sudah masuk lounge bandara.
***
Pukul 7.20, petugas Bandara berkata dalam bahasa China yg artinya kurang lebih bahwa pesawat yang akan membawa kami telah siap dan dimohon untuk bersiap2 di gate masuk. Kamipun menuju ke gate 8, pintu masuk pesawat kami.
Pesawat ini milik maskapai Shicuan Airlines (SCAL), aq melihat pesawat ini cukup bagus untuk ukuran maskapai di provinsi miskin. Menggunakan pesawat Airbus A320-300. Cukup nyaman untuk perjalanan jauh. Perjalanan ini akan menempuh perjalanan 2 jam untuk smpai d Beijing. Di dalam pesawat, tidak ada pramugari yang memperagakan petunjuk keselamatan atau apapun yang biasa kita temui d Indonesia, karena petunjuk keselamatan dilakukan dengan menggunakan LCD. Lumayan canggih dan nyaman juga pesawat ini. Waktu terbang ada pramugari yang membagikan Koran, beberapa saat kemudian pramugari membawa selimut dan menawarkan kepada penumpang yang kedinginan, tidak lama kemudian pramugari datang menawarkan minuman, semua lengkap, dari air putih, the, kopi, cola dan sebagainya. Aq hanya memesan air putih, karena takut bayarnya mahal kalau pesan minuman yg aneh2, hehe. Bersamaan dengan itu, ada pramugari yg datang membawa breakfast lengkap dengan makanan pencuci mulutnya. Awalnya ragu, apakah makanan ini gratis atau bayar, karena di Indonesia Cuma maskapai kelas premium yang menikmati hal semacam ini. Tapi akhirnya aq terima juga walaupun sedikit ragu. Tidak lama kemudian ada lagi pramugari yang membagikan kue, lalu datang lagi yang menawari tambahan minuman. Jujur, setelah menerima semua itu, aq meng-estimasi kira2 habis berapa untuk pelayanan yang aq terima ini, aq takut akan menguras Yuan yang aq bawa. Akhirnya aq tahu bahwa semua pelayanan tadi adalah gratis ketika akan turun dari pesawat, karena tidak ada orang yang menagih kami, hehe. Pantas saja, perjalanan 2 jam ini tidak terasa karena pelayanan maskapai yang betul2 bagus. Berbeda dengan maskapai pesawat di Indonesia. Jujur, karena sudah merasakan enaknya dan nyamannya terbang dengan maskapai luar negeri, aq jadi ngeri kalau naik pesawat Indonesia yang notabene dari negaraq sendiri. Sebagian besar, menggunakan pesawat tua, pelayanan tidak bagus bahkan terkesan asal2an. tidak ada makanan, tidak ada kue atau hidangan kecil2 dan lama perjalanan serasa lama walaupun terbang hanya 1 jam 10 menit (Surabaya-Jakarta).
***
WELCOME TO BEIJING….
Akhirnya pesawat sampai di Beijing International Airport, sangat besar dan sangat bagus bentuk bangunannya. Luar biasa arsitektur bandara ini. Setelah melalui proses kedatangan pada umumnya, kami langsung mencari tempat mengambil bagasi. Setelah mendapat bagasi kami mulai menuju pintu keluar. Setelah itu tampak ada meja Tourist Information, aq bertanya kemungkinan perjalanan ke Tianjin. Dia menyarankan untuk naik bis dari bandara yang langsung berhenti di Tianjin dengan harga 70 Yuan per orang. Aq bertanya lagi, bagaimana kalau naik fast train, dia bilang kereta itu ada di pusat kota, dan aq harus menuju ke pusat kota terlebih dahulu. Karena tidak tahu arah dan takut tersesat, akhirnya kami memilih bis kota ini dan membayar sebesar 70 Yuan (sekitar Rp 105.000).
Tepat sesuai jadwal pukul 10.30 bis berangkat. Tidak terlambat 1 menitpun walaupun penumpang belum penuh. Ketepatan waktu sangat diperhatikan disini. Bis masih belum beranjak keluar dari terminal. Bis masih akan menjemput penumpang lagi di bandara 2. Posisi kedatangan pesawat kami adalah bandara 3. Setelah berhenti beberapa saat, bis sudah siap berangkat lagi dan mulai keluar dari wilayah Beijing Int’l Airport. Ternyata bendara ini sangat besar, dibedakan menjadi 3 terminal yang kesemuanya jaraknya cukup jauh. Dari terminal 3 ke terminal 2 jaraknya sekitar 2 Km. Untuk parkir kendaraan berada diluar kawasan bandara. Sekitar 200 meter dari terminal 2. Jadi bisa dibayangkan berapa luas total dari bandara ini.
***
Bis mulai membelah kota Beijing, tapi kami tidak dapat menikmati indahnya kota karena bis melakukan perjalanan lewat tol secara terus-menerus hingga sampai kota Tianjin. Yang dapat kami lihat hanya jalan, kendaraan roda 4 atau lebih dan salju yang ada di mana-mana. Sehingga membuat perjalanan 120 Km ini terasa sangat membosankan,
WELCOME TO TIANJIN….
Pukul 13.15 kami sampai di Terminal Bus. Tepatnya di Nankai District. Dekat dengan Nankai University, salah satu universitas terbaik di China. Dan tidak disangka ternyata kami telah ditunggu oleh Seven dan temannya. Aq tidak mengenalinya, tapi dia yang duluan memanggil kami. Akhirnya aq pun bertanya, kamu Seven? Dia menjawab ya aq Seven. Dan kami pun mengobrol banyak sambil jalan menuju restoran sesuai usul Seven, dan karena perut kami sangat lapar setelah perjalanan jauh ini kami tidak menolak. Setelah masuk restoran, kami melihat menu dan menunjuk nasi goreng seharga 8 Yuan dan air mineral. Mungkin Seven salah tangkap mengira tentang pesanan kami, sehingga kami kaget mendapat mie goreng dan coca cola. Tapi tidak apa2, semua sudah terjadi. Yang penting dihajar saja makanan di depanq. Rasa mienya enak (mungkin ada campuran minyak babinya, aq gak tahu. Semoga Allah memaafkan aq, karena disini semua hal mengandung babi). Sewaktu makan kami membicarakan banyak hal, mulai dari kuliah, cerita hidup, keadaan di Indonesia hingga cita2 pun ditanyakan. Ternyata Seven dan temannya tidak seberapa paham juga tentang bahasa Inggris. Aneh memang padahal dia adalah seorang mahasiswa farmasi. Namun, itulah kenyataannya, orang China bangga dengan bahasanya sendiri dan tidak terlalu ditekankan untuk belajar bahasa dari Negara lain.
Selesai makan kami mencari2 penginapan untuk kami mala mini, karena home stay bisa ditempati esok hari,sang pemilik rumah masih ada ujian akhir. Dan kami pun setuju untuk mencari penginapan untuk 1 malam ini, walaupun sebenarnya hati kami gundah karena uang kami akan terkuras cukup dalam kalau kami menginap di penginapan lagi. Kami berempat, aq, Diera, seven dan Liliana berjalan kira2 200 meter sampai ke dekat penginapan terdekat. Liliana lalu masuk kedalam hotel dan menanyakan harga hotel, sementara kami menunggu diluar. Tidak berapa lama Liliana keluar dan ternyata harga hotel terlalu mahal yaitu 150 Yuan. Akhirnya Seven menelepon pusat informasi China untuk mendapatkan harga hotel paling murah. Oya, di China ada smacam layanan informasi, semua hal dapat ditanyakan. Mulai dari informasi sekolah, hotel, restoran, pesawat dan semua hal2 yg berhubungan dengan publik. Setelah beberapa saat Seven berbicara dengan operator dia menyarankan kami untuk memilih 2 pilihan hotel. Yang pertama adalah hotel dikawasan Nankai University yang 1 kamar dihuni 4 orang dengan harga 25 Yuan per orang, lalu yang satunya berada di kawasan Nankai University juga namun 1 kamar untuk 2 orang dengan harga 80 Yuan per kamar. Akhirnya kami memilih pilihan pertama, 25 Yuan per orang karena pertimbangan uang kami yang sedikit. Kemudian Seven menyarankan kami untuk berjalan lagi 100 meter untuk mencegat bis kota. Jujur, bawaan kami sangat berat, aq membawa 15 Kg dalam koper dan 7 Kg tas ransel, sedangkan Diera lebih parah lagi 20 Kg dalam koper dan 7 Kg dalam ranselnya. Barang2 ini membuat kanmi kesulitan membawanya, apalagi tenaga kami banyak terkuras didalamnya. Akhirnya Seven memilih taxi, karena mungkin kasihan dengan kami. Dia mencegat taxi dan kami memasukkan koper2 kami dalam bagasi. Jujur, taxi ini sangat jelek, berbeda dengan taxi2 lainnya di Tianjin. Taxi di China memang tidak sebagus taxi2 di Indonesia, tapi untuk mobil pribadi di China mayoritas lebih bagus dan lebih mewah. Kita dapat dengan mudah menjumpai mobil merk BUICK, VW, AUDI, CADILLAC dsb. Tapi mobil2 merk local China masih mendominasi. Setelah itu taxi berjalan kira2 15 menit dan ketika turun Seven membayar 10.7 Yuan. Kemudian dia menyuruh kami berjalan sepaanjang 1 Km untuk menuju ke hotel yang kami pilih. Kira2 20 menit kami berjalan dengan membawa bawaan yang sangat berat disertai udara dingin mencekam, kami sampai di lobi hotel. Dan ketika bertanya tentang harga, resepsionis hotel hanya menyediakan standart room untuk orang dari Negara lain dengan harga 160 Yuan. So, kami langsung menuju ke pilihan yang kedua, yaitu 80 Yuan. Akhirnya kami memutuskan berjalan lagi sejauh kira2 800 meter. Kami sampai di tempat penginapan dan Liliana kemudian menemui pemilik penginapan bersama kami sedangkan Seven menunggu barang bawaan kami dibawah. Setelah sampai di ruangan pemilik penginapan, terjadilah percakapan panjang yang tidak kami mengerti. Setelah mereka selesai berbicara, akhirnya sang pemilik menyuruh anaknya untuk membersihkan kamar yang akan kami tempati. Setelah itu sang pemilik memberikan kami kunci kamar, dan kami membayar 80 Yuan sesuai kesepakatan dan menaruh jaminan 10 Yuan. Setelah itu kami berjalan lagi untuk mencari kamar kami sekitar 100 meter. Akhirnya sampailah kami di kamar kami. Lumayan besar, ada dapur (tapi tidak berfungsi), ada kamar mandi dengan pemanas air (tapi kadang2 airnya dingin), ada 2 tempat tidur, ada TV dan tiap ruangan ada heater-nya. Lumayan untuk sebuah kamar. Jam 00.45 kami tertidur, karena sebelumnya kami terlalu asyik bermain laptop.

Menuju Chengdu City

Sewaktu menunggu boarding di terminal bandara gate T18, kami melihat banyak pesawat, berharap kami mendapat pesawat yang bagus karena kalau pesawat kecil kami takut tidak kuat menempuh perjalanan jauh ini. Setelah menunggu beberapa lama, pintu belum juga dibuka, padahal di dalam gate T18 para penumpang yang 95% orang China sudah ramai gak karu-karuan. Hingga membuat aq seperti orang bodoh karena gak paham apa yg diomongkan.
Setelah menunggu beberapa saat, tepat pukul 8:40 pintu gate T18 dibuka, dan kami bersama seluruh penumpang dipersilahkan menuju pesawat. Dan hal pertama yang membuat saya takjub adalah bahwa kami akan menaiki Jumbo Jet buatan Airbus. Luar biasa ternyata, mimpiku selama ini untuk naik Jumbo Jet keturutan juga,hehe. Ketika memasuki pesawat, aq bener2 takjub, di tiap bangku ada layar LCD 10 inchi yang menggunakan touch screen. Aq bener2 heran, bagaimana caranya AirAsia membiayai penerbangan ini padahal aq dan Diera membeli tiketnya hanya dengan harga MYR 408. Sungguh harga yang sangat tidak pantas dibanding dengan fasilitas yang kami dapat.
***
Perjalanan pertama kalinya aq menaiki Jumbo Jet pun dimuali, sang pilot berkata bahwa perjalanan pesawat ini akan memakan waktu selama 3:45 jam. Tepat jam 9.00 kami take off. Rasanya menaiki Jumbo Jet dengan pesawat biasa sungguh sangat berbeda, hampir tidak terasa kalau pesawat sudah terbang. Tidak ada goncangan, tidak ada suara gemuruh yang keras dan tidak ada perasaan jantung yang dikocok2 seperti pada pesawat2 kecil umumnya ketika take off. Semua terasa begitu elegan ketika burung besi jumbo ini membelah angkasa. Waktu melewati awanpun burung besi ini tidak bergetar sedikitpun.
Di dalam pesawat aq duduk bertiga. Dipojok ada Nick, orang China yang tinggal lama di Melbourne-Australia, kemudian aq dan Diera. Nick orangnya sangat baik, kami banyak mengobrol dengan dia selama di perjalanan. Dia orangnya supel dan suka tersenyum. Aq banyak bertanya banyak hal kepada Nick, mulai dari bertanya ttg Railway Station di Chengdu, tentang Bali, tentang China hingga masalah2 gak penting yang keluar dari mulut kami begitu saja. Lumayan, sebagai pemanis bibir karena aq juga gak tahu mw ngobrol apalagi sama Nick, hehe.
Di dalam pesawat aq dan Diera memesan makanan. Karena waktu malam kemarin kami memang belum makan, pagi tadi belum sarapan, dan dari kemarin pagi belum ada nasi secuil-pun yang masuk ke perut kami. Semuanya serba roti, kentang, salad, ayam, mie dsb, padahal aq dan Diera sangat rindu dengan nasi. Mungkin saat ini nasi dianggap bukan termasuk makanan internasional, padahal masih banyak rakyat di dunia ini yang doyan dengan nasi. Cuma orang2 Barat saja yang tidak biasa makan nasi. Orang Asia memang aneh, agar disebut Internasional, semua dari Barat diambil, padahal belum tentu itu baik buat dirinya. Kembali ke cerita, kami berharap ada nasi di pesawat. Karena memang ada menu asian fried rice d daftar menu pesawat. Dan kami sangat berharap itu bukan sekedar promosi iklan.
Setelah pramugari yang semuanya berdarah China mendatangi kursi kami, alangkah naasnya nasib kami, karena sekali lagi nasi tidak ada di dalam pesawat, dan menu yang ada tinggal chicken BBQ, padahal opsi kedua kami setelah asian fried rice adalah noodle meatballs (mungkin semacam bakso kalo di Indonesia, hehe). Aq tidak tahu, chicken BBQ itu apa, tapi Diera sudah pesan dahulu chicken BBQ ini, seakan-akan sudah tahu. Akhirnya daripada terus2an lapar dan malu sama pramugarinya kalau gak jadi dan dianggap gak punya uang, aq ambil saja makanan aneh itu. Ukurannya kotaknya kecil, seukuran kotak makan bayi, di dalamnya berisi campusan kedelai, jagung, irisan wortel dll yang diberi bumbu warna coklat. Ada juga irisan kentang 4 buah dan potongan ayam 2 buah. Aneh juga awalnya memakan makanan ini. Apalagi harganya yang luar biasa, sekitar Rp 98.000 untuk 2 porsi chicken BBQ ditambah air botol kecil (yang kalo di Indonesia harganya Cuma Rp. 1000). Bisnis yang menguntungkan memang jual makanan di pesawwat terbang, hehe.
***
Pesawat telah menempuh 3.30 jam perjalanan, dan pilot mengatakan bahwa pesawat akan segera mendarat d Chengdu International Airport dalam 20 menit lagi dan semua penumpang disuruh kembali dan memasang sabuk pengaman. 10 menit kemudian pesawat mulai turun perlahan-lahan, ketika sudah turun jauh ternyata pesawat naik kembali tanpa sebab yang pasti. Jujur, aq mulai panik, aq merasa telah terjadi sesuatu dengan pesawat ini. Tidak lama kemudian dugaanq terbukti sewaktu pilot berkata bahwa cuaca sangat buruk, jarak pandang hanya 50-100 meter, sehingga sang pilot memutuskan untuk menunggu saat dan kondisi yang tepat untuk melakukan pendaratan.
Aq melihat keluar jendela, pilot memang tidak salah, kare sejauh mataq memandang yang ada hanya kabut tebal berwarna putih menyelimuti. Yang dapat aq lihat hanyalah sayap pesawat. Selain itu tidak ada yang bisa terlihat. Yang bisa aq lakukan hanya berdoa dan memohon keselamatan dari Allah.
Pesawat masih terus berputar2, mungkin ada 30 menitan. Baru kemudian pilot berkata lagi bahwa pesawat akan segera mendarat. Tidak lama setelah itu pesawat ,mulai turun perlahan2. Aq masih melihat di jendela, ingin tahu bagaimana keadaanya. Tapi yang aq lihat hanya kabut tebal menyelimuti. Tidak lama kemudian bandara mulai terlihat samar, padahal jaraknya sangat dekat. Dan alhamduliilah beberapa saat kemudian pesawat mendarat dengan mulus walaupun jarak pandang sangat terganggu.
***
WELCOME TO CHENGDU….
Akhirnya, inilah pertama kalinya aq menjejakkan kaki di negeri China. Negeri yang disebut oleh nebi Muhammad di dalam salah satu hadits-nya, “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China”. Ketika masuk ke bandara, seperti biasa, proses imigrasi dsb. Tpi pemerintah China tidak ribet mengurusi masalah ini, hanya di stempel dan aq sudah boleh masuk ke terminal bandara. Bandara ini sangat besar, dengan arsitektur yang unik. Dan anehnya, banyak orang disini ternyata tidak bisa berbahasa Inggris. Aneh memang, China yg terkenal karena cepatnya pertumbuhan ekonominya ternyata sebagian besar masyarakatnya tidak bisa berbahasa Inggris. Aneh memang, tapi itulah yang terjadi.
***
Ketika sudah keluar dari bandara, kami seperti orang2 desa tolol yang baru datang dari desa yang amat terpencil. Mungkin karena melihat kebodohan kami, ada seorang wanita berumur 30an tahun yang dandanannya sangat necis. Dia bertanya menggunakan bahasa China, tapi aq tdk paham apa yg dia katakan. Akhirnya aq bertanya balik menggunakan bahasa Inggris, tenyata dia tidak bisa juga. Akhirnya kami berbicara menggunakan bahasa tarsan, bahasa yang sangat popular digunakan pada jaman batu dulu. Dimana bahasa ini hanya menggunakan simbol2 barang atau dengan bentuk tubuh. Lucu memang tapi itulah kenyataannya. Kami merasa seperti terdampar di tempat terpencil, yang tidak ada satu orangpun yang paham apa yang kami bicarakan. Dengan sabar kami menjelaskan dengan bahasa tarsan kepada wanita tersebut, akhirnya wanita itu sedikit mengerti apa yang kami bicarakan. Dan dia langsung mengajak kami ke tempat pembelian tiket. Akhirnya dia menanyakan kemana tujuan kami, kami bilang ke Tianjin. Lalu keluarlah harga 1520 Yuan. Aq berkata mahal sekali harganya. Lalu dia mencarikan lagi harga yang lebih murah, lalu ketemu harga 960 Yuan. Masih mahal menurutq untuk penerbangan 2.5 jam. Akhirnya aq bertanya berapa harga ke Beijing ke wanita tadi, wanita tadi langsung bilang ke penjual tiket dan penjual itu mencarinya. Sewaktu penjual tiket mencari, aq berkata kepada wanita tadi kalau minta tolong untuk mencarikan tiket ke Tianjin saja, yang paling murah. Lalu keluarlah harga 530 Yuan. Awalnya kami berpikir itu adalah harga untuk ke Tianjin. Setelah kami setuju dan tiket di cetak, kami kaget karena kode bandara tertulis PEK yang artinya menuju Beijing, padahal seharusnya TSN yg artinya Tianjin. Ketika melihat tiket itu aq sangat bingung. Antara membeli atau tidak. Akhirnya aq dan Diera berunding dan kami setuju untuk membeli tiket tersebut. Tapi masalah baru muncul, karena tiket itu adalah tiket untuk besok (tanggal 21 Januari 2010) dan kami berpikir dimana kami akan tinggal. Terbersit keinginan kami untuk mengulang kedua kalinya tidur di bandara. Seperti ketika kami menghabiskan malam di Kuala Lumpur Internasional Airport pada kemarin malam. Tapi wanita tersebut memaksa kami untuk ikut dengannya menuju motel. Aq bilang ke dia bahwa kami adalah mahasiswa, kami tidak punya uang. Dia tetap memaksa, mungkin karena tidak paham apa yang kami bicarakan. Lalu dia memanggil temannya, seorang laki2 besar, putih dan tidak bisa berbahasa Inggris juga. Mungkin wanita tersebut berkata kepada laki2 itu: “aq tidak sanggup mengatasi kedua bocah ini, tolong atasi mereka”. Akhirnya laki2 besar itu mengajakq ke meja informasi, di meja informasi ada beberapa perempuan yang bisa berbahasa Inggris. Kami pun menceritakan kisah kami dari awal kami keluar bandara hingga dipaksa oleh orang2 ini untuk memakai jasanya. Jujur, dalam keadaan seperti ini kami benar2 takut, hanya pertolongan Allah yang dapat menyelamatkan kami, dan kami mengharap pertolongan dari-Nya. Akhirnya wanita di meja informasi berkata bahwa orang ini adalah seorang makelar motel, dia mau membawa Anda untuk menuju motelnya sambil menunggu penerbangan esok hari. Setelah itu aq bertanya berapa harga motelnya, dia menjawab 150 Yuan/malam. Aq bilang kami adalah mahasiswa, kami tidak punya uang, dan laki2 itu akhirnya member kami harga 80 Yuan/malam. Kami pikir ini harga yang bagus karena kalau di rupiahkan menjadi sekitar Rp 112.000;. akhirnya kami pun menuju mobil laki2 tersebut, kami diantar ke motel miliknya. Motel ini tidak jauh dari bandara, mungkin sekitar 5-10 menit. Ketika mobil berjalan, kami baru tahu bahwa pengendara mobil di sini ngawur2. Belok seenaknya dan melaju dengan kecepatan sangat tinggi pula, biarpun ketika belok.
Motel ini dari luar terlihat sangat kecil, mungkin sekitar 5x8 meter. Tapi ternyata di lantai 2 motel ini menjadi sangat luas dan panjang. Untuk lantai 2 memuat sekitar 10 kamar seukuran 4x6 meter. Dan kami mendapat kamar dipojok. Mungkin ini kamar paling murah. Tapi waktu aq melihat kamar sebelah, tidak tampak perbedaannya. Mungkin karena laki2 tadi kasihan, dia memberi kami harga special buat mahasiswa, hehe.
***
Chengdu adalah ibukota dari propinsi Shicuan. Propinsi ini termasuk propinsi miskin di China. Namun ketika tiba di bandara Chengdu Shangliu International Airport, sangat tidak tampak kalau bandara ini berada di kota yang miskin. Maka tidak heran, disekitar motel banyak sekali kawasan2 yang kumuh. Banyak orang berjualan daging babi disekitar sini, banyak orang bermain mahyong (jenis judi yang popular di China), ada beberapa tempat bermain bilyard yang ramai, dan sebagainya. Yang membikin aq tidak tahan adalah bau daging babi yang diasapi, rasanya mau muntah kalau ada bau seperti ini. Dan bau semacam ini ternyata sudah biasa di sini.
Malam harinya, kami tidak ada rencana keluar motel, karena cuaca diluar sangat dingin. Saat kami sampai di motel pada siang hari cuaca terasa dingin, sekitar 10°C. malam harinya aq merasa cuaca lebih rendah daripada siang hari, jadi kami memutuskan tidak keluar motel. Kami ingin menghangatkan diri di bawah selimut tebal di kamar.
Karena aq merasa bosan dan membutuhkan internet, aq memutuskan mencari internet sebentar dan mengirim email kepada Seven, Seven adalah orang yang bertanggung jawab untuk menjemput kami. Di depan penjaga motel, aq bertanya dengan menggunakan bahasa tarsan untuk bertanya dimana tempat untuk internet terdekat. Penjaga motel menunjuk-nunjuk kearah kanan-kiri-kanan-kiri dengan bahasa tarsan pula, tapi saying aq tetap tidak paham. Akhirnya aq tunjuk2 komputer yang ada di meja di depanq dan dia langsung mempersilahkan aq untuk memakainya. Mungkin dia tidak paham kalau aq membutuhkan internet, dan dia mengira aq membutuhkan computer. Daripada aq terlihat mengecewakan tawarannya, akhirnya aq mencoba memakai komputernya, diluar dugaan ternyata computer disitu sudah tersambung internet. Dan aq baru tahu ternyata di China internet mudah didapat, asal membayar akun ke penyedia layanan internet, hal ini aq ketahui hari berikutnya ketika ada di ruang tunggu Chengdu Shuangliu Int’l Airport. Ketika aq asyik internet di meja penjaga motel, laki2 yang tadi siang menjemput aq di bandara sedang riwa-riwi untuk mengantar tamu yang datang untuk menginap di motelnya. Aq lihat jam menunjukkan pukul 21.30. dan cuaca diluar sangat dingin dan gelap. Jujur, aq kagum dengan orang ini, karena dari tadi siang dia tidak henti2 riwa-riwi menjemput tamu motel dan tidak ada kesan capek di wajahnya. Luar biasa stamina orang China satu ini. Padahal besok pagi2 sekali pukul 5.30 dia harus siap untuk mengantar kami dan beberapa orang lainnya untuk menuju ke bandara, karena boarding pesawat kami pukul 7.00 (keadaan di China sangat berbeda dengan di Indonesia, pukul 7.00 di China langit masih sangat gelap, setara pukul 5.00 pagi di Indonesia).
***
Rabu, 20 Januari 2010
Dalam nyenyaknya tidur dengan diselimuti selimut yang sangat tebal membuat kami lupa akan penerbangan pagi kami. Kami hampir lupa dengan jadwal kami. Hingga pukul 5.40 pintu kamar motel kami diketuk oleh seseorang dengan keras. Aq termasuk orang yang sangat sulit bangun ketika tidur, tapi ketukan keras itu mampu membuat aq terbangun.

Perjalanan Panjang Dimulai

Senin, 18 januari 2010.
Jam 7.30 pagi aq berangkat dari rumah, menuju sebuah Negara baru yang belum pernah aq kunjungi. Pagi ini, perpisahan ku dengan orang tua terasa begitu berat, lebih berat lagi berpisah dengan salah satu orang yang aq sayangi, Ria Zia Ulfah. Di malam sebelum aq berangkat, kami sempat bertemu dan mengungkapkan smua kerinduan kami, dan berharap rasa rindu bisa terobati selama beberapa saat ketika kami berjauhan. Tapi ternyata, peristiwa ini berujung pada jatuhnya airmata kami berdua. Kadang aq merasa lemah, tp aq juga tidak bisa menyembunyikan kesedihanku.
***
Aq dan temanku, diera gala paksi, kami mencoba berpetualang bersama. Menjelajahi negeri yang tidak pernah kami datangi dan ini juga pertama kalinya kami melakukan perjalanan keluar negeri. Sungguh pengalaman yang sangat menegangkan sekaligus mengasyikan. Perjalanan pertama diawali dengan penerbangan ke Kuala Lumpur International Airport. Perjalanan ini memakan waktu 2.30 jam. Tidak ada yang istimewa dalam perjalanan ini, hanya saja tadi aq merasa berbeda ketika melihat keluar jendela tenyata ada yang bergerak2 tidak normal disamping turbo pesawat, seperti mau lepas. Dan aq hanya bisa berdoa agar benda yang aq pikir itu sangat penting dalam perjalanan ini, tidak lepas saat aq masih diatas udara. Andaikan Allah mentakdirkan benda itu lepas, biarlah benda itu lepas ketika kami sudah mendarat, atau jika Allah butuh korban, biarlah benda itu jatuh ketika kami tidak menaikinya, tapi ini adalah hal yang naïf bagiku karena mendoakan yg tidak baik buat orang lain, hehe.
***
Ketika sampai di KLIA, kami sangat bingung harus bagaimana setelah ini. Kami lalu bergerak dimana orang-orang bergerak secara bersama-sama. Setelah memalui proses imigrasi yang tidak terlalu rumit, kami akhirnya turun dan mencari-cari koper2 kami. Hal bodoh kami lakukan, saat itu, kami berputar2 tanpa arah untuk mencari koper2 kami. Sungguh kami adalah dua orang bodoh yang terdampar entah dimana dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, hehe. Akhirnya setelah riwa-riwi seperti ayam kehilangan induk, kami akhirnya menemukan koper kami.
Ketika keluar dari terminal kedatangan, sekali lagi kami seperti orang bodoh, bahkan lebih bodoh dari orang bodoh, wkwkwk. Kami berputar2 untuk mencari toko penjual simcard agar bisa menghubungi keluarga dirumah secepatnya. Setelah berputar2, Tanya kesana-kemari dengan bahasa tarsan kami akhirnya menemukan orang penjual simcard. Bangga sudah mendapatkan simcard, kami melakukan apa yg diperintahkan di dalam petunjuk yang tertera. Sambil mengotak-atik simcard baru kami, kami mencari makan di KFC, kami rasa ini makanan paling murah di tempat ini, kami mendapat harga sekitar RM13 per porsi, jadi berdua kami menghabiskan sekitar Rp 78.000 sekali makan. Lumayan mahal untuk ukuran orang Indonesia.
Sewaktu mengotak-atik simcard ini di tempat duduk KFC, sekali lagi kebodohan kami tampak, karena kami tidak paham apa yang dibicarakan oleh kartu ini, hehe. Setelah menyerah dengan hasil yang sia-sia, kami bertanya kepada seseorang, dia org Malaysia, dan ternyata hasil yang kami dapat tidak memuaskan, krn orang itu juga tdk tahu bagaimana cara pakainya. Aneh memang, dunia ini sungguh rumit, hehe. Bahkan orang itu menyarankan kami untuk bertanya kembali ke toko tempat kami membeli. Setelah bertanya dengan bahasa tarsan, dan dijawab dengan bahasa tarsan pula oleh penjualnya, akhirnya kami bisa menggunakannya. Alhamdulillah, hehe.
***
Pukul 17.00 waktu Kuala Lumpur, kami bergerak menuju waiting room di bandara ini. Di tempat ini berisi puluhan orang yang sedang tidur, browsing, ngobrol, duduk2 sambil lihat bule2 yang lewat, maupun mencuri pandang sama cewek2 luar yang cakep2. (tapi aq bukan kategori yang terakhir pastinya, hehe). Di tempat ini, kami memutuskan untuk tidur. Tidur sambil duduk dan berdesak2an dengan yang lain, agar biaya hidup kami untuk transit ini tidak melambung tinggi. Semoga malam ini kami dapat tidur dengan nyenyak tanpa gangguan sedikitpun dan mendapat full energy untuk perjalanan jauh besok hari. Go to China..

***
***
Selasa, 19 Januari 2010
Malam tadi, kami tidur di ruang tunggu bandara. Awalnya sungkan juga tidur di tempat seperti itu karena di Indonesia hal tersebut sungguh luar biasa (diluar kebiasaan). Tapi ternyata waktu aq terbangun sekitar pukul 1.00 wktu Kuala Lumpur, aq tidak sendiri tidur di tempat ini seperti gelandangan, di samping kiriku ada pasangan orang China yang sedang tidur lelap, disamping kiri ku ada 4 orang Spanyol yang tertidur pulas pula. Bahkan salah satu dari mereka tidur langsung beralas lantai. Dan hal itu dilakukan tanpa malu2. Berbeda dengan orang Indonesia yang sok kaya dan malu berbuat hal-hal seperti ini.

Selasa, 19 Januari 2010

Hari Pertama di Kuala Lumpur


Senin, 18 januari 2010.
Jam 7.30 pagi aq berangkat dari rumah, menuju sebuah Negara baru yang belum pernah aq kunjungi. Pagi ini, perpisahan ku dengan orang tua terasa begitu berat, lebih berat lagi berpisah dengan salah satu orang yang aq sayangi, Ria Zia Ulfah. Di malam sebelum aq berangkat, kami sempat bertemu dan mengungkapkan smua kerinduan kami, dan berharap rasa rindu bisa terobati selama beberapa saat ketika kami berjauhan. Tapi ternyata, peristiwa ini berujung pada jatuhnya airmata kami berdua. Kadang aq merasa lemah, tp aq juga tidak bisa menyembunyikan kesedihanku.
***
Aq dan temanku, diera gala paksi, kami mencoba berpetualang bersama. Menjelajahi negeri yang tidak pernah kami datangi dan ini juga pertama kalinya kami melakukan perjalanan keluar negeri. Sungguh pengalaman yang sangat menegangkan sekaligus mengasyikan. Perjalanan pertama diawali dengan penerbangan ke Kuala Lumpur International Airport. Perjalanan ini memakan waktu 2.30 jam. Tidak ada yang istimewa dalam perjalanan ini, hanya saja tadi aq merasa berbeda ketika melihat keluar jendela tenyata ada yang bergerak2 tidak normal disamping turbo pesawat, seperti mau lepas. Dan aq hanya bisa berdoa agar benda yang aq pikir itu sangat penting dalam perjalanan ini, tidak lepas saat aq masih diatas udara. Andaikan Allah mentakdirkan benda itu lepas, biarlah benda itu lepas ketika kami sudah mendarat, atau jika Allah butuh korban, biarlah benda itu jatuh ketika kami tidak menaikinya, tapi ini adalah hal yang naïf bagiku karena mendoakan yg tidak baik buat orang lain, hehe.
***
Ketika sampai di KLIA, kami sangat bingung harus bagaimana setelah ini. Kami lalu bergerak dimana orang-orang bergerak secara bersama-sama. Setelah memalui proses imigrasi yang tidak terlalu rumit, kami akhirnya turun dan mencari-cari koper2 kami. Hal bodoh kami lakukan, saat itu, kami berputar2 tanpa arah untuk mencari koper2 kami. Sungguh kami adalah dua orang bodoh yang terdampar entah dimana dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, hehe. Akhirnya setelah riwa-riwi seperti ayam kehilangan induk, kami akhirnya menemukan koper kami.
Ketika keluar dari terminal kedatangan, sekali lagi kami seperti orang bodoh, bahkan lebih bodoh dari orang bodoh, wkwkwk. Kami berputar2 untuk mencari toko penjual simcard agar bisa menghubungi keluarga dirumah secepatnya. Setelah berputar2, Tanya kesana-kemari dengan bahasa tarsan kami akhirnya menemukan orang penjual simcard. Bangga sudah mendapatkan simcard, kami melakukan apa yg diperintahkan di dalam petunjuk yang tertera. Sambil mengotak-atik simcard baru kami, kami mencari makan di KFC, kami rasa ini makanan paling murah di tempat ini, kami mendapat harga sekitar RM13 per porsi, jadi berdua kami menghabiskan sekitar Rp 78.000 sekali makan. Lumayan mahal untuk ukuran orang Indonesia.
Sewaktu mengotak-atik simcard ini di tempat duduk KFC, sekali lagi kebodohan kami tampak, karena kami tidak paham apa yang dibicarakan oleh kartu ini, hehe. Setelah menyerah dengan hasil yang sia-sia, kami bertanya kepada seseorang, dia org Malaysia, dan ternyata hasil yang kami dapat tidak memuaskan, krn orang itu juga tdk tahu bagaimana cara pakainya. Aneh memang, dunia ini sungguh rumit, hehe. Bahkan orang itu menyarankan kami untuk bertanya kembali ke toko tempat kami membeli. Setelah bertanya dengan bahasa tarsan, dan dijawab dengan bahasa tarsan pula oleh penjualnya, akhirnya kami bisa menggunakannya. Alhamdulillah, hehe.
***
Pukul 17.00 waktu Kuala Lumpur, kami bergerak menuju waiting room di bandara ini. Di tempat ini berisi puluhan orang yang sedang tidur, browsing, ngobrol, duduk2 sambil lihat bule2 yang lewat, maupun mencuri pandang sama cewek2 luar yang cakep2. (tapi aq bukan kategori yang terakhir pastinya, hehe). Di tempat ini, kami memutuskan untuk tidur. Tidur sambil duduk dan berdesak2an dengan yang lain, agar biaya hidup kami untuk transit ini tidak melambung tinggi. Semoga malam ini kami dapat tidur dengan nyenyak tanpa gangguan sedikitpun dan mendapat full energy untuk perjalanan jauh besok hari. Go to China..

***
***
Selasa, 19 Januari 2010
Malam tadi, kami tidur di ruang tunggu bandara. Awalnya sungkan juga tidur di tempat seperti itu karena di Indonesia hal tersebut sungguh luar biasa (diluar kebiasaan). Tapi ternyata waktu aq terbangun sekitar pukul 1.00 wktu Kuala Lumpur, aq tidak sendiri tidur di tempat ini seperti gelandangan, di samping kiriku ada pasangan orang China yang sedang tidur lelap, disamping kiri ku ada 4 orang Spanyol yang tertidur pulas pula. Bahkan salah satu dari mereka tidur langsung beralas lantai. Dan hal itu dilakukan tanpa malu2. Berbeda dengan orang Indonesia yang sok kaya dan malu berbuat hal-hal seperti ini.

Senin, 04 Januari 2010

RAHASIA ORANG YAHUDI BEGITU CERDAS



Artikel Dr Stephen Carr Leon patut menjadi renungan bersama. Stephen menulis dari pengamatan langsung. Setelah berada 3 tahun di Israel karena menjalani housemanship di beberapa rumah sakit di sana. Dirinya melihat ada beberapa hal yang menarik yang dapat ditarik sebagai bahan tesisnya, yaitu, "Mengapa Yahudi Pintar?"
Ketika tahun kedua, akhir bulan Desember 1980, Stephen sedang menghitung hari untuk pulang ke California, terlintas di benaknya, apa sebabnya Yahudi begitu pintar? Kenapa tuhan memberi kelebihan kepada mereka? Apakah ini suatu kebetulan? Atau hasil usaha sendiri?

Maka Stephen tergerak membuat tesis untuk Phd-nya. Sekadar untuk Anda ketahui, tesis ini memakan waktu hampir delapan tahun. Karena harus mengumpulkan data-data yang setepat mungkin.

Marilah kita mulai dengan persiapan awal melahirkan. Di Israel, setelah mengetahui sang ibu sedang mengandung, sang ibu akan sering menyanyi dan bermain piano. Si ibu dan bapak akan membeli buku matematika dan menyelesaikan soal bersama suami.

Stephen sungguh heran karena temannya yang mengandung sering membawa buku matematika dan bertanya beberapa soal yang tak dapat diselesaikan. Kebetulan Stephen suka matematika.

Stephen bertanya, “Apakah ini untuk anak kamu?”
Dia menjawab, “Iya, ini untuk anak saya yang masih di kandungan, saya sedang melatih otaknya, semoga ia menjadi jenius.”

Hal ini membuat Stephen tertarik untuk mengikut terus perkembangannya.
Kembali ke matematika tadi, tanpa merasa jenuh si calon ibu mengerjakan latihan matematika sampai genap melahirkan.
Hal lain yang Stephen perhatikan adalah cara makan. Sejak awal mengandung dia suka sekali memakan kacang badam dan korma bersama susu. Tengah hari makanan utamanya roti dan ikan tanpa kepala bersama salad yang dicampur dengan badam dan berbagai jenis kacang-kacangan.

Menurut wanita Yahudi itu, daging ikan sungguh baik untuk perkembangan otak dan kepala ikan mengandungi kimia yang tidak baik yang dapat merusak perkembangan dan penumbuhan otak anak didalam kandungan. Ini adalah adat orang orang Yahudi ketika mengandung. menjadi semacam kewajiban untuk ibu yang sedang mengandung mengonsumsi pil minyak ikan.

Ketika diundang untuk makan malam bersama orang orang Yahudi. Begitu Stephen menceritakan, “Perhatian utama saya adalah menu mereka. Pada setiap undangan yang sama saya perhatikan, mereka gemar sekali memakan ikan (hanya isi atau fillet),”
ungkapnya.
Biasanya kalau sudah ada ikan, tidak ada daging. Ikan dan daging tidak ada bersama di satu meja. Menurut keluarga Yahudi, campuran daging dan ikan tak bagus dimakan bersama. Salad dan kacang, harus, terutama kacang badam.
Uniknya, mereka akan makan buah buahan dahulu sebelum hidangan utama. Jangan terperanjat jika Anda diundang ke rumah Yahudi Anda akan dihidangkan buah buahan dahulu. Menurut mereka, dengan memakan hidangan kabohidrat (nasi atau roti) dahulu kemudian buah buahan, ini akan menyebabkan kita merasa ngantuk.
Akibatnya lemah dan payah untuk memahami pelajaran di sekolah.

Di Israel, merokok adalah tabu, apabila Anda diundang makan dirumah Yahudi, jangan sekali kali merokok. Tanpa sungkan mereka akan menyuruh Anda keluar dari rumah mereka. Menyuruh Anda merokok di luar rumah mereka.

Menurut ilmuwan di Universitas Israel, penelitian menunjukkan nikotin dapat merusakkan sel utama pada otak manusia dan akan melekat pada gen. Artinya, keturunan perokok bakal membawa generasi yang cacat otak ( bodoh). Suatu penemuan yang dari saintis gen dan DNA Israel.

Perhatian Stephen selanjutnya adalah mengunjungi anak-anak Yahudi. Mereka sangat memperhatikan makanan, makanan awal adalah buah buahan bersama kacang badam, diikuti dengan menelan pil minyak ikan (code oil lever).

Dalam pengamatan Stephen, anak-anak Yahudi sungguh cerdas. Rata rata mereka memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan Inggris. Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban.
Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar.
Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak. Tak heran banyak pakar musik dari kaum Yahudi.
Seterusnya di kelas 1 hingga 6, anak anak Yahudi akan diajar matematika berbasis perniagaan. Pelajaran IPA sangat diutamakan. Di dalam pengamatan Stephen, "Perbandingan dengan anak anak di California, dalam tingkat IQ-nya bisa saya katakan 6 tahun kebelakang!! !" katanya.

Segala pelajaran akan dengan mudah di tangkap oleh anak Yahudi. Selain dari pelajaran tadi olahraga juga menjadi kewajiban bagi mereka. Olahraga yang diutamakan adalah memanah, menembak dan berlari. Menurut teman Yahudi-nya Stephen, memanah dan menembak dapat melatih otak fokus. Disamping itu menembak bagian dari persiapan untuk membela negara.

Selanjutnya perhatian Stephen ke sekolah tinggi (menengah). Di sini murid-murid digojlok dengan pelajaran sains. Mereka didorong untuk menciptakan produk. Meski proyek mereka kadangkala kelihatannya lucu dan memboroskan, tetap diteliti dengan serius.
Apa lagi kalau yang diteliti itu berupa senjata, medis dan teknik. Ide itu akan dibawa ke jenjang lebih tinggi.

Satu lagi yg di beri keutamaan ialah fakultas ekonomi. Saya sungguh terperanjat melihat mereka begitu agresif dan seriusnya mereka belajar ekonomi. Diakhir tahun di universitas, mahasiswa diharuskan mengerjakan proyek. Mereka harus memperaktekkanya. Anda hanya akan lulus jika team Anda (10 pelajar setiap kumpulan) dapat keuntungan sebanyak $ US 1 juta!

Anda terperanjat?

Itulah kenyataannya.

Kesimpulan, pada teori Stephen adalah, melahirkan anak dan keturunan yang cerdas adalah keharusan. Tentunya bukan perkara yang bisa diselesaikan semalaman. Perlu proses, melewati beberapa generasi mungkin?

Kabar lain tentang bagaimana pendidikan anak adalah dari saudara kita di Palestina. Mengapa Israel mengincar anak-anak Palestina. Terjawab sudah mengapa agresi militer Israel yang biadab dari 27 Desember 2008 kemarin memfokuskan diri pada pembantaian
anak-anak Palestina di Jalur Gaza.

Seperti yang kita ketahui, setelah lewat tiga minggu, jumlah korban tewas akibat holocaust itu sudah mencapai lebih dari 1300 orang lebih. Hampir setengah darinya adalah anak-anak.

Selain karena memang tabiat Yahudi yang tidak punya nurani,target anak-anak bukanlah kebetulan belaka. Sebulan lalu, sesuai Ramadhan 1429 Hijriah, Ismali Haniya, pemimpin Hamas, melantik sekitar 3500 anak-anak Palestina yang sudah hafidz al-Quran.

Anak-anak yang sudah hafal 30 juz Alquran ini menjadi sumber ketakutan Zionis Yahudi. "Jika dalam usia semuda itu mereka sudah menguasai Alquran, bayangkan 20 tahun lagi mereka akan jadi seperti apa?" demikian pemikiran yang berkembang di pikiran orang-orang Yahudi.

Tidak heran jika-anak Palestina menjadi para penghafal Alquran. Kondisi Gaza yang diblokade dari segala arah oleh Israel menjadikan mereka terus intens berinteraksi dengan al-Qur'an. Tak ada main Play Station atau game bagi mereka.
Namun kondisi itu memacu mereka untuk menjadi para penghafal yang masih begitu belia. Kini, karena ketakutan sang penjajah, sekitar 500 bocah penghafal Quran itu telah syahid.

Perang panjang dengan Yahudi akan berlanjut entah sampai berapa generasi lagi. Ini
cuma masalah giliran. Sekarang Palestina dan besok bisa jadi Indonesia.
Bagaimana perbandingan perhatian pemerintah Indonesia dalam membina generasi penerus dibanding dengan negara tetangganya.

Ambil contoh tetangga kita yang terdekat adalah Singapura. Contoh yang penulis ambil sederhana saja, Rokok. Singapura selain menerapkan aturan yang ketat tentang rokok, juga harganya sangat mahal.

Benarkah merokok dapat melahirkan generasi "Goblok!" kata Goblok bukan dari penulis, tapi kata itu sendiri dari Stephen Carr Leon sendiri. Dia sudah menemui beberapa bukti menyokong teori ini. "Lihat saja Indonesia," katanya seperti dalam tulisan itu.

Jika Anda ke Jakarta, di mana saja Anda berada, dari restoran, teater, kebun bunga
hingga ke musium, hidung Anda akan segera mencium bau asap rokok! Berapa harga rokok? Cuma US$ .70 cts (sen) !!!

"Hasilnya? Dengan penduduknya berjumlah jutaan orang berapa banyak universitas? Hasil apakah yang dapat dibanggakan? Teknologi? Jauh sekali. Adakah mereka dapat berbahasa selain dari bahasa mereka sendiri? Mengapa mereka begitu sukar sekali menguasai bahasa Inggris? Ditangga berapakah kedudukan mereka di pertandingan matematika sedunia?


Minggu, 03 Januari 2010

7 Rahasia Agar Rambut Sehat

Berikut ini tip dari tradisi Ayurveda yang berumur 5.000 tahun mengenai keindahan dan kesehatan rambut:
1.  Mulailah dengan mengatur makanan. Pilih makanan yang mengandung sayuran hijau dan buah manis. Produk susu dan yogurt juga baik untuk rambut. Demikian juga dengan kelapa.
2.  Hindari makanan olahan atau kalengan. Ayurveda mengatakan bahwa makanan dengan pengawet buatan dan bahan kimia tambahan tidak akan memberi manfaat gizi untuk tubuh dan badan. Minuman dingin juga mengganggu proses pencernaan dan asimilasi zat gizi.
3.  Bumbu seperti lada hitam bermanfaat untuk kesehatan rambut. Tambahkan bumbu ini ke dalam sup atau masakan lain.
4.  Hindari stres karena dapat berakibat serius dalam jangka panjang dan mempengaruhi warna rambut. Cobalah atur waktu dan tugas untuk meminimisasi tekanan. Lakukan rileksasi/meditasi.
5.  Jauhi produk kimia keras yang dapat merusak rambut. Cari sampo dan kondisioner alami dan lembut, terutama bila Anda mencuci rambut tiga kali seminggu.
6.  Pijat kulit kepala dengan minyak kelapa atau minyak zaitun untuk menstimulasi dan memberi kelembaban kulit kepala.
7.  Jangan sisir rambut dengan sikat ketika rambut basah. Diposting dari Kompas.com

Cara Mensyukuri Tubuh Sendiri

Apakah Anda cukup puas dengan tubuh sendiri? Bila kurang puas, ikuti saran dari Margo Maine, Ph.D berikut ini:
1.    Tubuh Anda adalah ciptaan Tuhan yang luar biasa, mulailah untuk menghargainya.
2.    Buat daftar yang mencantumkan hal-hal yang dapat dilakukan tubuh Anda. Baca dan tambah terus daftar itu.
3.    Sadari apa yang bisa dilakukan tubuh Anda setiap hari. Ingatlah bahwa tubuh adalah instrumen kehidupan, bukan sekadar hiasan
4.    Buatlah daftar orang-orang yang Anda kagumi: orang yang banyak menyumbang hal positif dalam hidup Anda, di masyarakat dan di dunia. Perhatikan apakah penampilan fisik mereka tampak penting dalam menunjang kesuksesan dan pencapaiannya.
5.    Berjalanlah dengan kepala diangkat, didukung rasa percaya diri.
6.    Jangan biarkan berat badan atau postur tubuh menghalangi Anda menikmati kegiatan yang disukai.
7.    Pakailah baju yang nyaman, disukai dan terasa enak di tubuh.
8.    Hitung berkat yang Anda terima, bukan kemalangan-kemalangan.
9.    Pikirkan hal-hal lain yang bisa dicapai dengan waktu dan energi yang dihabiskan untuk mengkhawatirkan badan dan penampilan.
10.Jadilah sahabat serta pendukung, bukan musuh bagi tubuh sendiri.
11.Pikirkan bahwa kulit Anda beregenerasi setiap bulan, perut setiap lima hari, liver setiap 6 minggu dan tulang setiap tiga bulan.
12.Setiap bangun tidur di pagi hari jangan lupa berterimakasih atas istirahat untuk tubuh sehingga tubuh terasa segar.
13.Setiap malam saat akan tidur jangan lupa berkata kepada tubuh Anda betapa berharganya tubuh, sehingga membantu melaksanakan tugas sehari-hari.
14.Temukan metode latihan olahraga yang Anda nikmati dan lakukan secara teratur. Tapi jangan berolahraga untuk menurunkan berat badan atau melawan tubuh sendiri. Lakukan olahraga untuk kesehatan dan kekuatan tubuh, karena membuat Anda nyaman.
15.Ingat kembali saat Anda merasa nyaman dengan tubuh Anda. Katakan pada diri sendiri Anda dapat merasa seperti itu lagi, bahkan pada usia yang tidak muda lagi.
16.Buatlah daftar 10 hal positif tentang diri sendiri tanpa menyebut penampilan fisik.
17.Buat tulisan dan tempel di kaca rias: saya tampil menarik dari dalam dan luar.
18.Cari hal-hal indah yang ada di dunia dan pada diri Anda sendiri.
19.Mulailah berkata pada diri sendiri: hidup itu terlalu singkat untuk menghabiskan waktu membenci tubuh sendiri.
20.Makanlah ketika lapar dan istirahat ketika lelah. Carilah teman-teman yang bisa mengingatkan akan kecantikan luar dan dalam yang ada pada diri Anda. diposting dari Kompas.com

Jumat, 01 Januari 2010

Buah-buahan Asli Indonesia

Mungkin, banyak dari kita generasi sekarang yang tidak sempat menikmati buah-buahan asli Indonesia ini. Karena banyaknya penebangan pohon, lahan-lahan semakin sempit dan buah-buah ini kalah bersaing dengan buah impor, sehingga banyak orang enggan menanamnya. Padahal buah ini tidak kalah dari buah impor (hanya kalah terkenal saja). Cintailah produk negeri kita, karena itu identitas kita sebagai bangsa Indonesia....

Menteng (Baccaurea racemosa)

Rasanya asam-asam manis. Daging buahnya sangat sedikit karena bijinya besar. Buah ini banyak
terdapat di Bogor dan sekitarnya. Di Jawa Tengah, menteng disebut dengan mundung.
Menteng, kepundung, atau (ke)mundung adalah pohon penghasil buah dengan
nama sama yang dapat dimakan. Sekilas buah menteng mirip dengan buah
duku namun tajuk pohonnya berbeda. Rasa buahnya biasanya masam (kecut)
meskipun ada pula yang manis.
Menteng dulu biasa ditanam di pekarangan namun sekarang sudah sulit
ditemui akibat desakan penduduk dan penanaman tanaman buah lain yang
lebih disukai. Tumbuhan ini asli dari Pulau Jawa. Di sekitar Jakarta
dan Bogor kadang-kadang masih ditemukan penjual buah menteng.

Kemang (Mangifera caesia)

Buah kemang sejenis mangga, apabila telah matang berwarna kuning kecoklat-coklatan. Buah ini mengeluarkan
aroma seperti terpentin. Daging buah berwarna kuning,mengandung banyak cairan dengan rasa asam manis. Buah yang masak
dapat dimakan segar, sedang buah yang hampir masak biasanya dimakan
untuk campuran rujak. Daunnya yang masih muda dapat digunakan untuk
lalap. Kemang menyebar secara alami di Sumatra, Kalimantan dan
Semenanjung Malaya; dan banyak dibudidayakan di Jawa bagian barat,
terutama dekat Bogor. Tumbuhan ini terutama menyebar di dataran rendah
di bawah 400 m, jarang hingga 800 m dpl. Jenis ini tahan terhadap
penggenangan, dan seringkali didapati dekat tepi sungai.
Di sebagian wilayah sumatera selatan ada mitos yg meyebutkan jika
setumpuk buah durian digabungkan dengan 1 buah kemang dalam 1 malam
seluruh buah durian akan merekah terbuka matang, juga mitos orang akan
langsung mokad apabila kepalanya tertimpa buah ini

Gandaria (Bouea macrophylla Griffith)

Adalah tanaman yang berasal dari kepulauan Indonesia dan Malaysia.
Tanaman ini tumbuh di daerah tropis, dan banyak dibudidayakan di Sumatera dan Thailand.
Gandaria dimanfaatkan buah, daun, dan batangnya. Buah gandaria berwarna hijau saat masih muda,
dan sering dikonsumsi sebagai rujak atau campuran sambal gandaria.Buah
gandaria yang matang berwarna kuning, memiliki rasa kecut-manis
dan dapat dimakan langsung. Daunnya digunakan sebagai lalap. Batang gandaria dapat digunakan sebagai papan.

Kecapi (Sandoricum koetjape)

Kecapi, sentul atau ketuat adalah nama sejenis buah dan juga pohon penghasilnya
Kecapi diperkirakan berasal dari Indocina dan Semenanjung Malaya.
Berabad-abad yang silam, tumbuhan ini dibawa dan dimasukkan ke India,
Indonesia (Borneo, Maluku), Mauritius, dan Filipina, di mana tanaman
buah ini kemudian menjadi populer, ditanam secara luas dan mengalami
naturalisasi.
Pohon ini ditanam terutama karena diharapkan buahnya, yang berasa manis
atau agak masam. Kulit buahnya yang berdaging tebal kerap dimakan dalam
keadaan segar atau dimasak lebih dulu, dijadikan manisan atau marmalade.
Kayu kecapi bermutu baik sebagai bahan konstruksi rumah, bahan perkakas atau kerajinan, mudah dikerjakan dan mudah dipoles.
Berbagai bagian pohon kecapi memiliki khasiat obat. Rebusan daunnya
digunakan sebagai penurun demam. Serbuk kulit batangnya untuk
pengobatan cacing gelang. Akarnya untuk obat kembung, sakit perut dan
diare; serta untuk penguat tubuh wanita setelah melahirkan.
Kecapi ada dua macam, yakni dengan daun tua sebelum gugur berwarna
kuning dan yang berwarna merah. Dahulu, kedua varietas ini dianggap
sebagai spesies yang berbeda

Bisbul (diospyros blancoi)

Bisbul adalah nama sejenis buah beserta pohonnya. Tumbuhan ini berkerabat dekat dengan kesemek dan kayu hitam.
Nama-nama lainnya adalah buah mentega (bahasa Melayu, merujuk pada daging buahnya ketika masak),
kamagong, tabang atau mabolo (Tagalog, merujuk pada kulit buahnya yang
berbulu halus), marit (Thailand), dan velvet apple (Inggris).
Buah bisbol berbentuk bulat, agak pipih. Kulit buah berwarna merah
muda, atau jingga kekuning-kuningan dengan bulu halus berwarna
kemerahan. Berbau seperti mentega. Biji berwarna coklat.

Burahol/Kepel (Stechocarpus burahol)


Adalah flora identitas Daerah Istimewa Yogyakarta.
Buah kepel dikenal sebagai buah meja (santapan wajib) kegemaran puteri
kraton di Jawa karena menyebabkan keringat beraroma wangi.
Bentuk buah burahol bulat lonjong atau kebulatan, bagian pangkal agak
meruncing. Warnanya coklat keabu-abuan, kalau sudah tua berubah
menjadi coklat tua. Daging buah agak kekuningan sampai kecoklatan, rasa
manis, membungkus biji yang berukuran cukup besar. Buah masak
dimakan segar, dan setelah makan buah ini pengeluaran air seni menjadi
lancar. Selain itu, bau keringat menjadi wangi, bau napas menjadi harum.

Jambu Mawar (Eugenia jambos)

Jambu mawar alias jambu kraton adalah anggota suku jambu-jambuan atau Myrtaceae
yang berasal dari Asia Tenggara, Dinamai demikian karena buah jambu ini memiliki aroma wangi yang keras seperti mawar.
Buah berbentuk hampir bulat, agak lonjong atau melebar pada dasarnya.
Garis tengahnya 4 - 5 cm. Bila sudah masak warnanya kuning
pucat atau kehijau-hijauan, dengan kulit licin dan agak keras.
Warna bijinya coklat. Buah yang sudah masak bisa dimakan segar atau
dimasak dulu dicampur dengan buah lainnya serta gula untuk dibuat selai
atau jeli.

Lobi-lobi (Flacourtia inermis)

Buah lobi-lobi berukuran kecil, bentuknya agak bundar. Yang sudah masak
warnanya merah tua, rasanya asam atau manis, kadang-kadang
kelat dengan biji banyak. Buah yang sudah masak digunakan untuk bahan
pembuat rujak, sirup, sele, buah kalengan, asinan dan manisan.

Rukem (Flacourtia rukem)

Buah berbentuk bulat, daging buahnya tebal dan mengandung cairan.
Buah yang masak berwarna merah kehitaman. Rasanya asam-asam manis,dan
berbiji banyak. Dapat dimakan dalam keadaan segar, dan dapat
pula dibuat rujak. Bisa juga dibuat manisan dan asinan. Buah yang masih
muda dapat digunkan sebagai obat, dan daun mudanya bisa untuk
lalap.

Sawo Durian (Chrysophyllum cainito)


Buah sawo durian hijau yang telah tua kulitnya hijau keputihan dan jika
masih muda warnanya hijau muda. Sedang daging buahnya lunak dan
berwarna putih susu bila telah masak.
Sawo durian merah mula-mula berwarna hijau, lalu berubah kemerahan dan
lantas menjadi keunguan di saat mencapai kematangannya. Daging
buah berwarna putih susu seperti sawo durian hijau. Hanya saja di bagian tepinya, bila dibelah, akan tampak warna keunguan.

Sawo Kecik (Manilkara kauki)

Buah berbentuk bulat telur berukuran kecil. Buah yang masak enak
dimakan, rasanya manis, kadang-kadang sedikit sepet. Kulitnya sangat
tipis, dan mudah mengelupas. Buahnya selain dapat dimakan, kayunya yang
keras dan kuat sangat baik untuk dibuat patung, perabot rumah
tangga, alat-alat pertukangan, tiang penyangga rumah, dan sebagainya.

Terap (Artocarpus odoratissimus)

Pohon ini terutama ditanam karena buahnya, yang dimakan dalam keadaan segar
atau diolah sebagai kue-kue. Buah terap harus segera dimakan dalam beberapa jam
setelah dibuka, karena baunya yang harum cepat berkurang dan warnanya
dapat berubah karena teroksidasi. Biji terap juga dapat dimakan setelah
dipanggang atau direbus dengan garam.
Terap dapat tumbuh sejak daerah dekat pantai hingga ketinggian sekitar
1000 m dpl. Pohon ini menyenangi tanah liat berpasir dan wilayah dengan
curah hujan cukup tinggi dan merata. Buah biasa didapati di awal musim
hujan, antara Agustus hingga Januari bergantung pada lokasinya.

Jambu Bol (Syzygium malaccense)



Buah jambu bol biasa disajikan sebagai buah meja.
Jambu bol, bersama dengan jambu air dan jambu semarang atau jambu cincalo memiliki pemanfaatan yang kurang lebih serupa dan dapat saling menggantikan.
Buah-buah ini umumnya dimakan segar, atau dijadikan sebagai salah satu bahan rujak.
Aneka jenis jambu ini juga dapat disetup atau dijadikan asinan. Karena rasa dan aromanya,
jambu bol pada umumnya lebih disukai orang dan karena itu harganya juga
umumnya lebih tinggi daripada jambu air atau jambu semarang.
Kulit batangnya digunakan sebagai obat sariawan. Sedangkan kayunya yang
keras dan kemerahan cukup baik sebagai bahan bangunan, asalkan tidak
kena tanah.

Jamblang (Syzygium cumini)

Buah jamblang biasa dimakan segar. Di India dan Filipina, seperti juga
kebiasaan di beberapa daerah di Indonesia, buah jamblang yang masak
dicampur dengan sedikit garam dan kadang-kadang ditambahi gula, lalu
dikocok di dalam wadah tertutup (biasanya dua mangkuk ditangkupkan)
sehingga lunak dan berkurang sepatnya. Buah yang kaya vitamin A dan C
ini juga dapat dijadikan sari buah, jeli atau anggur.