Tidak terasa bis mulai meninggalkan kota Gresik dan masuk wilayah Kota Surabaya. Waktu telah menunjukkan pukul 23.30 wib, sudah ada beberapa penumpang yang terkantuk-kantuk di bangku mereka, bahkan sudah ada juga yang tertidur dan bersandar dengan orang di sampingnya yang tertidur pula. Suasana terasa agak senyap, namun kondektur dan sopirnya masih terjaga sambil mengobrol berdua untuk mengusir rasa kantuk yang mulai menyerang. Dan aku, masih bertahan disini di pintu belakang sambil bersandar di pipa besi pintu tidak merasakan kantuk sedikitpun karena pikiranku masih terjaga dan melayang membayangkan apa yang akan aku lakukan setelah ini, besok dan seterusnya untuk bertahan hidup. Pikiranku melayang-layang mencari mimpinya yang belum ketemu, melayang-layang mencari jati dirinya yang belum ketemu dan melayang-layang mencari arti hidup yang sebenarnya.
Tepat pukul 23.55 wib bis telah sampai di Terminal Purabaya Surabaya, terminal terakhir bis ini. Semua orang telah bangun dan bersiap-siap akan turun sambil memeriksa barang-barang bawaanya. Aku masih berdiri, tidak ada niat turun dari bis walaupun orang-orang lalu-lalang turun di depanku. Aku terdiam di bis karena aku bingung, pikiranku melayang tidak karuan karena membayangkan akan tidur dimana malam ini. Setelah penumpang bis tinggal beberapa orang, aku melihat di sudut bangku tengah ada seorang anak yang tidak beranjak juga dari tempat duduknya, dia menoleh ke kanan ke kiri tanpa tahu apa yang dipikirkan. Sepertinya dia bernasib sama seperti aku, baru datang ke Surabaya dan tidak tahu apa yang akan dilakukan. Setelah semua penumpang termasuk kondektur dan sopir telah turun, yang ada di dalam bis itu tinggal aku dan anak laki-laki tadi. Dia memandang wajahku dari kejauhan dengan wajah tanda tanya dan akupun memandang wajahnya. Dia tersenyum akupun ikut tersenyum. Akhirnya aku menuju ke bangkunya, aku mengulurkan tangan dan berkata “Hai, aku Syakir. Senang berkenalan denganmu” diapun menjawab dengan suara sedikit serak “Hai juga, aku Barzu. Senang berkenalan denganmu juga”. Dari pembicaraan setelah perkenalan ini akhirnya aku tahu kalau Barzu berasal dari kota Solo, dia adalah anak tunggal sekaligus yatim piatu, ayahnya meninggal 2 tahun yang lalu karena kanker dan ibunya baru meninggal 1 bulan yang lalu karena kecelakaan sewaktu pulang kerja. Akhirnya dia dititipkan ke pamannya yang rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Paman ini adalah Adik dari ayahnya. Pamannya sangat baik kepadanya, dia diumpamakan anaknya sendiri karena pamannya memang belum mendapat anak setelah 3 tahun menikah. Dan pamannya sangat suka kepadanya karena Barzu adalah anak yang rajin, Barzu sering mencuci baju keluarga pamannya, mengepel rumah, membersihkan rumah dan sebagainya. Sebenarnya hal itu tidak masalah bagi dia, karena bagi dia itu hal yang wajar karena dia statusnya menumpang di rumah pamannya, namun yang dia pikirkan adalah masa depan dia. Akan menjadi seperti apa dia kalau seterusnya seperti ini. Akhirnya dia memberanikan diri untuk meminta ijin pergi dari rumah setelah 1 bulan tinggal bersama pamannya, awalnya pamannya tidak setuju karena masa depannya menjadi sangat tidak pasti diluar sana. Namun setelah pembicaraan yang cukup panjang akhirnya pamannya mengijinkan dia meninggalkan rumah. Dan pamannya berpesan kalau nanti seumpama ingin kembali ke rumah maka jangan sungkan-sungkan untuk kembali. Dan Barzu pun mengatakan dalam hati saya berusaha tidak akan kembali sebelum saya berhasil.
Dari pembicaraan dengan dia, aku sadar Barzu adalah anak yang memiliki keistimewaan. Tingginya sekitar 170 cm, berbadan tegap seperti tentara, kalau berbicara seperti seorang komandan sedang memimpin pasukan, sangat berwibawa dan tegas, namun umurnya baru 17 tahun, 1 tahun lebih muda dari aku. Aku berpikir mungkin keadaan dan segala cobaan yang menderanya yang membuat dia jadi seperti ini. Bahkan dia masih bisa tertawa lepas ketika ada sesuatu yang lucu. Benar-benar anak yang luar biasa, seperti orang yang tidak punya beban hidup, padahal dia sudah tidak punya orang tua yang akan selalu merindukannya, tidak punya apa-apa yang dapat dibanggakan dan tidak punya saudara kandung yang dapat membantunya dalam kesulitan. Dia tidak punya apa-apa, tidak punya siapa-siapa, yang dia punya hanya keyakinan di dalam dirinya sendiri. Keyakinan bahwa semua pasti ada jalan bagaimanapun terjalnya tujuan itu. Keyakinan yang kuat yang membakar hatinya untuk selalu tegar dengan segala cobaan yang menerpa. Keyakinan yang selalu membakar semangatnya untuk terus berjuang meraih cita-citanya.
Malam itu kami bercerita banyak hingga lewat jam 02.00 wib, akhirnya kamipun memilih tidur beralas lantai yang dingin di serambi masjid yang ada di Terminal Purabaya bersama dengan belasan orang lainnya yang sudah tertidur. Malam ini aku akan tidur ditemani bintang-bintang. Bintang-bintang seakan bernyanyi kepadaku, bernyanyi tentang indahnya malam ini, bernyanyi kepada bulan yang bersinar terang dan bernyanyi kepada bumi agar menjaga aku dalam tidurku.
Senin, 14 Maret 2011
Kamis, 10 Februari 2011
Nuansa 3 Pelangi (Bagian 3)
Sebagai seorang pemuda, aku tidak kehabisan akal untuk dapat tumpangan gratis hingga ke Surabaya. Dari rumah aku telah siap dengan alat saktiku yang bisa aku gunakan untuk mencari uang plus dapat tumpangan gratis, yaitu ecek-ecek. Aneh memang namanya, nama ini diambil dari bunyi yang dihasilkan dari alat ini. Untuk membuatnya juga cukup mudah tinggal menyusun beberapa buah tutup botol yang telah di bentuk lempengan, disatukan dan di paku pada batang bambu. Dan ketika di gerakkan akan menghasilkan bunyi ecek-ecek, karena hasil tumbukan antara lempeng yang satu dengan lempeng yang lain. Dengan alat ini aku akan membawakan beberapa lagu untuk para penumpang bis. Aku tidak tahu berapa lagu yang akan aku bawakan, karena aku belum pernah tahu berapa lama bis ini akan membawaku hingga ke Surabaya.
Aku menunggu bis tepat disamping warung kopi yang buka hingga pagi hari. Cahayanya remang-remang karena hanya ada 1 lampu bertengger di atas gubuk. Cukup ramai suasana di warung kopi itu. Ada yang main catur, ada yang menonton acara TV, ada yang berbincang-bincang sambil ngobrol ada yang tidur-tiduran di kursi dan sebagainya. Lama aku perhatikan mereka, terbersit rasa iri kepada mereka. Iri mengapa mereka yang rata-rata hanya menjadi tukang ojek atau tukang becak, makan tidak tentu namun hidup mereka serasa bahagia tanpa beban. Iri dengan canda tawa mereka yang begitu lepas dan tanpa beban. Iri dengan mereka yang seakan-akan tiada beban hidup tiap hari dan iri mengapa mereka begitu bahagia dengan kemiskinan yang mendera mereka. Tanpa sadar airmataku meleleh, karena membayangkan nasib yang akan aku jalani, mengingat ini adalah perjuangan hidupku untuk merubah segalanya. Merubah nasib kedua orang tuaku, merubah nasib anak dan istriku nanti dan tentu saja merubah nasibku sendiri. Airmataku meleleh bukan karena aku takut akan kesengsaraan yang akan aku jalani, atau takut dengan kegagalan yang bisa terjadi padaku, namun yang membuat airmataku meleleh adalah bayangan kebahagiaan kedua orang tuaku nanti ketika aku pulang dan mampu mengangkat derajat mereka. Itu adalah airmata kebahagiaan, airmata harapan dan airmata kesuksesan. Karena aku akan berusaha selalu optimis, di dalam keadaan yang bagaimanapun.
***
Setelah menunggu sekitar 45 menit akhirnya bis yang aku nanti-nantikan datang. Didalam bis terlihat sangat padat oleh penumpang, ada beberapa penumpang yang berdiri ada pula beberapa penumpang yang bersandar di dekat pintu keluar bis. Mungkin ini adalah bis terakhir untuk hari ini, karena waktu telah menunjukkan pukul 22.10 wib, dan aku rasa sudah tidak ada lagi bis untuk malam ini. Bis inilah gerbang mimpiku, gerbang yang akan menunjukkan kepadaku indahnya mimpi dan kerasnya jalan yang akan aku jalani untuk meraih mimpi itu. Bagiku bis ini adalah bis harapan, harapan untuk merubah segalanya, harapan yang akan membawa mimpiku terbang jauh dan menemui kenyataan, dan memang nama bis ini adalah Harapan Jaya. Dan bis ini juga bis perubahan, perubahan dari aku yang hanya anak desa lulusan SMA akan menuju kota besar dan menantang nasib. Tanpa bekal apapun, tanpa petunjuk siapapun aku sendirian menempuh bahaya ini. Andaikan aku gagal, selamanya aku tidak akan pulang, itulah janjiku, janji yang tiap waktu selalu menghantui ku untuk selalu berusaha keras agar tidak ada kata gagal dalam pikiran dan segala tindakanku.
Bis mulai melaju membelah dinginnya malam. Dan akupun bersiap-siap untuk bernyanyi diantara kerumunan orang di dalam bis. Ini adalah pertama kalinya aku bernyanyi untuk tujuan mencari uang, sebelumnya aku memang sering bernyanyi, namun itu bernyanyi menjadi paduan suara dan koor di SMA. Sungguh ini diluar nalarku sendiri, aku sama sekali tidak tahu lagu-lagu yang pop ataupun lagu yang trend saat ini, yang aku tahu hanya lagu-lagu kebangsaan, lagu-lagu daerah dan tembang-tembang jawa yang biasa aku dengarkan di RRI. Aku baru sadar ketika di dalam bis bahwa sungguh sangat lucu ketika ada seorang pengamen membawakan lagu kebangsaan atau lagu-lagu daerah. Aku membayangkan bagaimana respon mereka terhadap laguku, apa mereka akan terenyuh atau bahkan malah tertawa terpingkal-pingkal karena tidak cocoknya situasi dan keadaan antara laguku dengan keadaan bis. Lama aku termenung membayangkan ini sambil memegang ecek-ecek di tangan, dan sudah banyak orang juga yang melihatku dengan terheran-heran, mungkin mereka tidak sabar untuk menanti aku bernyanyi untuk menghilangkan kejenuhan di dalam bis ini. Akhirnya akupun memberanikan diri, walaupun sebenarnya hal ini sangat memalukan bagiku, inilah hal gila pertama yang aku lakukan.
Indonesia..tanah airku….Tanah tumpah darahku….
Disanalah aku berdiri bagi pandu ibuku…dst.
Aku yang bersuara parau bernyanyi lagu Indonesia Raya dengan lantang tanpa malu-malu, langsung secara serempak semua orang di dalam bis melihat ke arahku, tidak terkecuali sopir bis yang tiba-tiba melambatkan laju bis untuk merekam dalam memori otaknya wajah bodohku saat itu. Hingga lagu Indonesia Raya hampir selesai suasana di dalam bis masih senyap, yang terdengar hanya bunyi mesin bis dan kendaraan lalu lalang. Tidak ada bunyi orang berbincang-bincang dan berbisik-bisik, pikirku mereka terenyuh dengan suaraku yang indah. Akupun melihat beberapa orang masih memandangku dengan wajah bodoh terheran-heran. Dan ketika lagu Indonesia Raya selesai tiba-tiba suasana berubah drastis, semua orang di dalam bis tertawa terpingkal-pingkal, tak terkecuali sopir bis dan kondekturnya. Semua orang tertawa hingga ada yang menggedor-gedor bangku dan menggedor-gedor dinding bis karena terbawa tertawaannya yang membuat sakit perut. Sungguh inilah hal gila dalam hidupku yang pernah aku alami, membuat malu diriku sendiri dihadapan semua penumpang bis, tidak hanya penumpang, sopir dan kondektur bis juga. Tapi apa mau dikata, semua sudah terjadi dan mimpiku masih terlalu besar kalau dibandingkan dengan hal gila ini. Jadi aku harus berpikiran optimis, mungkin ini cobaan pertamaku.
Tanpa pikir panjang aku bergegas menuju ke bangku terdepan dan menyodorkan tas yang aku bawa yang sudah aku buka resletingnya agar orang-orang dapat memberi sedikit rejeki mereka buatku. Ada yang memberi permen, ada yang memberi rokok, ada yang memberi uang receh ada juga yang memberi uang kertas seribuan. Mereka memberikan semua itu kepadaku tetap dalam keadaan tertawa tidak berubah. Hanya mungkin ada beberapa orang yang telah berhenti tertawa karena perutnya jadi sakit karena kebanyakan tertawa, wajahnya jadi lucu karena cengar-cengir menahan sakit di perutnya, giliran aku yang tertawa dalam hati melihat kejadian itu. Gantian, itu akibat kalau menertawai orang yang sudah susah, hahaha.
Setelah selesai meminta belas kasihan penumpang dari bangku ke bangku aku menghitung uang yang aku dapat di dekat pintu belakang sambil bersandar di pipa besi pengaman pintu. Tidak kusangka, walaupun banyak yang tertawa dengan lagu yang aku bawakan, ternyata banyak juga hasilku untuk menyanyi pertama kalinya ini. Total ada Rp 12.650, 3 batang rokok, 1 tissu, dan 9 permen. Alhamdulillah, aku bersyukur dengan hasil pertamaku ini, toh sebenarnya niat pertamaku melakukan ini adalah untuk mendapatkan tumpangan gratis hingga ke Surabaya.
Aku menunggu bis tepat disamping warung kopi yang buka hingga pagi hari. Cahayanya remang-remang karena hanya ada 1 lampu bertengger di atas gubuk. Cukup ramai suasana di warung kopi itu. Ada yang main catur, ada yang menonton acara TV, ada yang berbincang-bincang sambil ngobrol ada yang tidur-tiduran di kursi dan sebagainya. Lama aku perhatikan mereka, terbersit rasa iri kepada mereka. Iri mengapa mereka yang rata-rata hanya menjadi tukang ojek atau tukang becak, makan tidak tentu namun hidup mereka serasa bahagia tanpa beban. Iri dengan canda tawa mereka yang begitu lepas dan tanpa beban. Iri dengan mereka yang seakan-akan tiada beban hidup tiap hari dan iri mengapa mereka begitu bahagia dengan kemiskinan yang mendera mereka. Tanpa sadar airmataku meleleh, karena membayangkan nasib yang akan aku jalani, mengingat ini adalah perjuangan hidupku untuk merubah segalanya. Merubah nasib kedua orang tuaku, merubah nasib anak dan istriku nanti dan tentu saja merubah nasibku sendiri. Airmataku meleleh bukan karena aku takut akan kesengsaraan yang akan aku jalani, atau takut dengan kegagalan yang bisa terjadi padaku, namun yang membuat airmataku meleleh adalah bayangan kebahagiaan kedua orang tuaku nanti ketika aku pulang dan mampu mengangkat derajat mereka. Itu adalah airmata kebahagiaan, airmata harapan dan airmata kesuksesan. Karena aku akan berusaha selalu optimis, di dalam keadaan yang bagaimanapun.
***
Setelah menunggu sekitar 45 menit akhirnya bis yang aku nanti-nantikan datang. Didalam bis terlihat sangat padat oleh penumpang, ada beberapa penumpang yang berdiri ada pula beberapa penumpang yang bersandar di dekat pintu keluar bis. Mungkin ini adalah bis terakhir untuk hari ini, karena waktu telah menunjukkan pukul 22.10 wib, dan aku rasa sudah tidak ada lagi bis untuk malam ini. Bis inilah gerbang mimpiku, gerbang yang akan menunjukkan kepadaku indahnya mimpi dan kerasnya jalan yang akan aku jalani untuk meraih mimpi itu. Bagiku bis ini adalah bis harapan, harapan untuk merubah segalanya, harapan yang akan membawa mimpiku terbang jauh dan menemui kenyataan, dan memang nama bis ini adalah Harapan Jaya. Dan bis ini juga bis perubahan, perubahan dari aku yang hanya anak desa lulusan SMA akan menuju kota besar dan menantang nasib. Tanpa bekal apapun, tanpa petunjuk siapapun aku sendirian menempuh bahaya ini. Andaikan aku gagal, selamanya aku tidak akan pulang, itulah janjiku, janji yang tiap waktu selalu menghantui ku untuk selalu berusaha keras agar tidak ada kata gagal dalam pikiran dan segala tindakanku.
Bis mulai melaju membelah dinginnya malam. Dan akupun bersiap-siap untuk bernyanyi diantara kerumunan orang di dalam bis. Ini adalah pertama kalinya aku bernyanyi untuk tujuan mencari uang, sebelumnya aku memang sering bernyanyi, namun itu bernyanyi menjadi paduan suara dan koor di SMA. Sungguh ini diluar nalarku sendiri, aku sama sekali tidak tahu lagu-lagu yang pop ataupun lagu yang trend saat ini, yang aku tahu hanya lagu-lagu kebangsaan, lagu-lagu daerah dan tembang-tembang jawa yang biasa aku dengarkan di RRI. Aku baru sadar ketika di dalam bis bahwa sungguh sangat lucu ketika ada seorang pengamen membawakan lagu kebangsaan atau lagu-lagu daerah. Aku membayangkan bagaimana respon mereka terhadap laguku, apa mereka akan terenyuh atau bahkan malah tertawa terpingkal-pingkal karena tidak cocoknya situasi dan keadaan antara laguku dengan keadaan bis. Lama aku termenung membayangkan ini sambil memegang ecek-ecek di tangan, dan sudah banyak orang juga yang melihatku dengan terheran-heran, mungkin mereka tidak sabar untuk menanti aku bernyanyi untuk menghilangkan kejenuhan di dalam bis ini. Akhirnya akupun memberanikan diri, walaupun sebenarnya hal ini sangat memalukan bagiku, inilah hal gila pertama yang aku lakukan.
Indonesia..tanah airku….Tanah tumpah darahku….
Disanalah aku berdiri bagi pandu ibuku…dst.
Aku yang bersuara parau bernyanyi lagu Indonesia Raya dengan lantang tanpa malu-malu, langsung secara serempak semua orang di dalam bis melihat ke arahku, tidak terkecuali sopir bis yang tiba-tiba melambatkan laju bis untuk merekam dalam memori otaknya wajah bodohku saat itu. Hingga lagu Indonesia Raya hampir selesai suasana di dalam bis masih senyap, yang terdengar hanya bunyi mesin bis dan kendaraan lalu lalang. Tidak ada bunyi orang berbincang-bincang dan berbisik-bisik, pikirku mereka terenyuh dengan suaraku yang indah. Akupun melihat beberapa orang masih memandangku dengan wajah bodoh terheran-heran. Dan ketika lagu Indonesia Raya selesai tiba-tiba suasana berubah drastis, semua orang di dalam bis tertawa terpingkal-pingkal, tak terkecuali sopir bis dan kondekturnya. Semua orang tertawa hingga ada yang menggedor-gedor bangku dan menggedor-gedor dinding bis karena terbawa tertawaannya yang membuat sakit perut. Sungguh inilah hal gila dalam hidupku yang pernah aku alami, membuat malu diriku sendiri dihadapan semua penumpang bis, tidak hanya penumpang, sopir dan kondektur bis juga. Tapi apa mau dikata, semua sudah terjadi dan mimpiku masih terlalu besar kalau dibandingkan dengan hal gila ini. Jadi aku harus berpikiran optimis, mungkin ini cobaan pertamaku.
Tanpa pikir panjang aku bergegas menuju ke bangku terdepan dan menyodorkan tas yang aku bawa yang sudah aku buka resletingnya agar orang-orang dapat memberi sedikit rejeki mereka buatku. Ada yang memberi permen, ada yang memberi rokok, ada yang memberi uang receh ada juga yang memberi uang kertas seribuan. Mereka memberikan semua itu kepadaku tetap dalam keadaan tertawa tidak berubah. Hanya mungkin ada beberapa orang yang telah berhenti tertawa karena perutnya jadi sakit karena kebanyakan tertawa, wajahnya jadi lucu karena cengar-cengir menahan sakit di perutnya, giliran aku yang tertawa dalam hati melihat kejadian itu. Gantian, itu akibat kalau menertawai orang yang sudah susah, hahaha.
Setelah selesai meminta belas kasihan penumpang dari bangku ke bangku aku menghitung uang yang aku dapat di dekat pintu belakang sambil bersandar di pipa besi pengaman pintu. Tidak kusangka, walaupun banyak yang tertawa dengan lagu yang aku bawakan, ternyata banyak juga hasilku untuk menyanyi pertama kalinya ini. Total ada Rp 12.650, 3 batang rokok, 1 tissu, dan 9 permen. Alhamdulillah, aku bersyukur dengan hasil pertamaku ini, toh sebenarnya niat pertamaku melakukan ini adalah untuk mendapatkan tumpangan gratis hingga ke Surabaya.
Nuansa 3 Pelangi (Bagian 2)
2 tahun yang lalu setelah aku lulus dari SMA dengan nilai yang sangat memuaskan, aku berencana melanjutkan kuliah di Kota Surabaya dengan biayaku sendiri. Berbekal informasi dari seorang teman tentang Universitas-universitas favorit di Surabaya aku memberanikan diri untuk pergi ke Surabaya tanpa uang saku sedikitpun. Kepada ayah dan ibuku aku berbohong bahwa aku telah diterima di sebuah universitas negeri lewat program beasiswa dan mendapat jaminan uang saku tiap bulan. Dengan berkata seperti ini akhirnya dengan berat hati mereka rela melepas aku dan tak lupa mereka mencium keningku, dan mendoakan agar Allah selalu memberi petunjuk kepadaku. Ayah dan ibuku tidak memberi uang saku sedikitpun karena memang mereka sedang tidak ada uang, ayah belum ada garapan selama 2 minggu ini dan ibu belum gajian, jadi aku berbohong lagi kalau aku sudah siap dengan uang saku yang cukup dari hasil tabunganku, padahal aku tidak punya uang sedikitpun. Uang hasil tabungan telah habis untuk membayar biaya ujian akhir dan sebagainya. Aku sadar aku telah berbohong kepada mereka, namun aku yakin masa depanku bukan disini, bukan untuk menjadi buruh tani dan bukan juga menjadi buruh cuci, tapi masa depan ada di tempat nun jauh disana dan aku harus berani meraihnya.
Malam itu juga setelah selesai shalat Isya, aku telah siap berangkat ke Surabaya, berbekal tas sekolah waktu SMA yang berisi 2 buah kaos, 1 sarung dan sajadah, aku siap menjemput mimpiku. Dingin dan gelapnya malam tidak sedikitpun menyurutkan niatku. Untuk keluar ke jalan besar aku harus berjalan kaki menempuh jarak 10 KM dan tidak ada penerangan sedikitpun, hanya sinar bulan yang saat itu sedang purnama yang selalu menerangi jalanku. Sejujurnya ada rasa sedikit was-was dan takut melakukan perjalanan malam ini, banyak kabar kalau di jalan yang aku lalui ini sering terjadi perampokan dan pernah juga terjadi pembunuhan di jalan ini. Itu terjadi 3 tahun yang lalu dan beritanya di ekspos hingga ke Koran nasional karena korbannya adalah anggota DPR. Mungkin pembunuhan ini bermotif politik, tapi hingga saat ini kasus itu belum juga terungkap.
Hampir 2 jam telah aku lalui dan lampu-lampu jalan raya telah terlihat, senang rasanya karena horror jalan ini akan segera usai. Beberapa menit kemudian aku telah sampai di tepi jalan raya. Aku menunggu bis antar kota jurusan Semarang-Surabaya menurut informasi dari seorang teman. Sebelumnya aku tidak pernah melakukan perjalanan sejauh ini, paling jauh hanya ke kota Babat yang hanya berjarak 25 KM dari Lamongan. Ini adalah perjalanan jauhku yang pertama, ditambah dengan tanpa membawa uang sama sekali. Sungguh ini merupakan awal yang cukup berat bagiku, ada keinginan untuk kembali lagi dan berkata jujur kepada orang tua tentang semua kebohongan ini, namun dorongan untuk meraih mimpi lebih kuat dan memakan keinginan ku untuk kembali ke rumah.
Malam itu juga setelah selesai shalat Isya, aku telah siap berangkat ke Surabaya, berbekal tas sekolah waktu SMA yang berisi 2 buah kaos, 1 sarung dan sajadah, aku siap menjemput mimpiku. Dingin dan gelapnya malam tidak sedikitpun menyurutkan niatku. Untuk keluar ke jalan besar aku harus berjalan kaki menempuh jarak 10 KM dan tidak ada penerangan sedikitpun, hanya sinar bulan yang saat itu sedang purnama yang selalu menerangi jalanku. Sejujurnya ada rasa sedikit was-was dan takut melakukan perjalanan malam ini, banyak kabar kalau di jalan yang aku lalui ini sering terjadi perampokan dan pernah juga terjadi pembunuhan di jalan ini. Itu terjadi 3 tahun yang lalu dan beritanya di ekspos hingga ke Koran nasional karena korbannya adalah anggota DPR. Mungkin pembunuhan ini bermotif politik, tapi hingga saat ini kasus itu belum juga terungkap.
Hampir 2 jam telah aku lalui dan lampu-lampu jalan raya telah terlihat, senang rasanya karena horror jalan ini akan segera usai. Beberapa menit kemudian aku telah sampai di tepi jalan raya. Aku menunggu bis antar kota jurusan Semarang-Surabaya menurut informasi dari seorang teman. Sebelumnya aku tidak pernah melakukan perjalanan sejauh ini, paling jauh hanya ke kota Babat yang hanya berjarak 25 KM dari Lamongan. Ini adalah perjalanan jauhku yang pertama, ditambah dengan tanpa membawa uang sama sekali. Sungguh ini merupakan awal yang cukup berat bagiku, ada keinginan untuk kembali lagi dan berkata jujur kepada orang tua tentang semua kebohongan ini, namun dorongan untuk meraih mimpi lebih kuat dan memakan keinginan ku untuk kembali ke rumah.
Sabtu, 05 Februari 2011
Nuansa 3 Pelangi (Bagian 1)
Chapter I
Berlari Mengejar Impian
Bzzz……Bzzzz……Bzzz……
Suara bising mesin pembersih lantai membangunkan aku yang tertidur lelap pagi ini. Aku melihat arloji di tangan kananku dan telah menunjukkan pukul 4.30 pagi. Masih sangat pagi pikirku untuk bangun. Namun apa mau dikata aku harus bangun sekarang, atau banyak orang yang akan melihatku dengan perasaan aneh karena tadi malam aku tidur di kursi ruang tunggu Kuala Lumpur International Airport. Hari kemarin aku sempat kebingungan, setelah turun dari pesawat hal pertama yang aku pikirkan adalah tempat untuk tidur malam ini, karena aku bertekad tidak menginap di penginapan, toh hanya 1 malam saja. Dari Indonesia aku hanya membawa uang saku 400 uero dan 200 ringgit, sedangkan perjalananku masih jauh dan uang itu harus cukup untuk bertahan hidup selama 5 tahun di China, Negara dimana aku akan mengadu nasib disana. Uang saku itu adalah uang hasil jerih payah ku selama 1 tahun berjualan nasi uduk di perempatan jalan Ahmad Yani Surabaya tiap pagi. Untuk melayani para pembeli yang rata-rata pekerja kantoran yang tidak sempat sarapan di rumah.
Tadi malam ini aku tertidur cukup lelap, kerasnya kursi waiting room tidak menyusutkan pandangan mataku untuk tetap terpejam. Perjalanan jauh dari Surabaya ke Kuala Lumpur ternyata cukup melelahkan karena pesawat sempat delay hingga 8 jam sedangkan ini adalah pertama kalinya aku naik pesawat, sehingga sangatlah terasa lelahnya perjalanan yang hanya memakan waktu 2.5 jam ini.
Di Malaysia ini aku berencana mengunjungi kawan lama, kami dulu adalah sepasang teman dekat sewaktu duduk di bangku SMA. Sekarang dia sedang menempuh kuliah S2 nya di salah satu universitas ternama di Kuala Lumpur. Dulu kami adalah 2 orang murid terpandai di kelas, kalau semester ini dia rangking 1 semester depan giliran aku yang meraih rangking 1. Begitu seterusnya, kami saling berlomba untuk menjadi yang terbaik. Dan disaat ada olimpiade MIPA tingkat kabupaten kami berada dalam 1 tim dan berhasil merebut juara 2. Setelah itu kami lolos di tingkat Propinsi tapi sayang kami belum mendapatkan posisi 5 besar. Namun, hal itu merupakan prestasi yang membanggakan kami saat itu. Dimana kami hanya 2 orang anak desa, yang minim dengan segala fasilitas ternyata mampu masuk dalam final olimpiade MIPA tingkat propinsi. Namun itu hanya cerita indah masa lalu, sekarang aku harus bisa menghadapi kenyataan. Selepas SMA Dimas ikut dengan orang tuanya yang menjadi TKI di negeri jiran sedangkan aku terpaksa harus mengubur semua impian ku untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi lagi. Ayahku hanya buruh tani pedesaan di Lamongan sedangkan ibuku hanya seorang buruh cuci di sebuah rumah milik seorang saudagar. Hal inilah yang membuat aku tidak tega untuk meminta uang kepada mereka untuk membiayai kuliah ku di Surabaya.
Berlari Mengejar Impian
Bzzz……Bzzzz……Bzzz……
Suara bising mesin pembersih lantai membangunkan aku yang tertidur lelap pagi ini. Aku melihat arloji di tangan kananku dan telah menunjukkan pukul 4.30 pagi. Masih sangat pagi pikirku untuk bangun. Namun apa mau dikata aku harus bangun sekarang, atau banyak orang yang akan melihatku dengan perasaan aneh karena tadi malam aku tidur di kursi ruang tunggu Kuala Lumpur International Airport. Hari kemarin aku sempat kebingungan, setelah turun dari pesawat hal pertama yang aku pikirkan adalah tempat untuk tidur malam ini, karena aku bertekad tidak menginap di penginapan, toh hanya 1 malam saja. Dari Indonesia aku hanya membawa uang saku 400 uero dan 200 ringgit, sedangkan perjalananku masih jauh dan uang itu harus cukup untuk bertahan hidup selama 5 tahun di China, Negara dimana aku akan mengadu nasib disana. Uang saku itu adalah uang hasil jerih payah ku selama 1 tahun berjualan nasi uduk di perempatan jalan Ahmad Yani Surabaya tiap pagi. Untuk melayani para pembeli yang rata-rata pekerja kantoran yang tidak sempat sarapan di rumah.
Tadi malam ini aku tertidur cukup lelap, kerasnya kursi waiting room tidak menyusutkan pandangan mataku untuk tetap terpejam. Perjalanan jauh dari Surabaya ke Kuala Lumpur ternyata cukup melelahkan karena pesawat sempat delay hingga 8 jam sedangkan ini adalah pertama kalinya aku naik pesawat, sehingga sangatlah terasa lelahnya perjalanan yang hanya memakan waktu 2.5 jam ini.
Di Malaysia ini aku berencana mengunjungi kawan lama, kami dulu adalah sepasang teman dekat sewaktu duduk di bangku SMA. Sekarang dia sedang menempuh kuliah S2 nya di salah satu universitas ternama di Kuala Lumpur. Dulu kami adalah 2 orang murid terpandai di kelas, kalau semester ini dia rangking 1 semester depan giliran aku yang meraih rangking 1. Begitu seterusnya, kami saling berlomba untuk menjadi yang terbaik. Dan disaat ada olimpiade MIPA tingkat kabupaten kami berada dalam 1 tim dan berhasil merebut juara 2. Setelah itu kami lolos di tingkat Propinsi tapi sayang kami belum mendapatkan posisi 5 besar. Namun, hal itu merupakan prestasi yang membanggakan kami saat itu. Dimana kami hanya 2 orang anak desa, yang minim dengan segala fasilitas ternyata mampu masuk dalam final olimpiade MIPA tingkat propinsi. Namun itu hanya cerita indah masa lalu, sekarang aku harus bisa menghadapi kenyataan. Selepas SMA Dimas ikut dengan orang tuanya yang menjadi TKI di negeri jiran sedangkan aku terpaksa harus mengubur semua impian ku untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi lagi. Ayahku hanya buruh tani pedesaan di Lamongan sedangkan ibuku hanya seorang buruh cuci di sebuah rumah milik seorang saudagar. Hal inilah yang membuat aku tidak tega untuk meminta uang kepada mereka untuk membiayai kuliah ku di Surabaya.
Belajar membuat novel
Kali ini saya akan belajar membuat sebuah novel. Novel ini terinspirasi dari pengalaman pribadi saya. Semoga tulisan ini dapat menghibur para pembaca sekalian. Mohon saran dan kritik...
Terima kasih
Terima kasih
Jual Jamur wilayah Surabaya-Sidoarjo-Gresik (siap antar)
Penawaran Jamur Tiram Segar ( hasil budidaya Pacet-Mojokerto)
"PLANET JAMUR"
No. Order(minimum of quantity) Harga per-Kg keterangan
1 20kg Rp10.000 pengiriman ke Surabaya
2 10kg Rp11.000 pengiriman ke Surabaya
3 5kg Rp13.000 pengiriman ke Surabaya
4 kurang dari 5kg Rp14.000 pengiriman ke Surabaya
Harga sudah termasuk ongkos kirim. Untuk pemesanan Kontinyu harga bisa nego. Info lebih lengkap hubungi Faisol: 0857 5565 8349
"PLANET JAMUR"
No. Order(minimum of quantity) Harga per-Kg keterangan
1 20kg Rp10.000 pengiriman ke Surabaya
2 10kg Rp11.000 pengiriman ke Surabaya
3 5kg Rp13.000 pengiriman ke Surabaya
4 kurang dari 5kg Rp14.000 pengiriman ke Surabaya
Harga sudah termasuk ongkos kirim. Untuk pemesanan Kontinyu harga bisa nego. Info lebih lengkap hubungi Faisol: 0857 5565 8349
Kamis, 15 April 2010
Tragedi Tanjung Priok, Jakarta, 1984
Tragedi Tanjung Priok, Jakarta, 1984
Sebagai anak yang lahir dan dibesarkan di tanjung Priok, tentu tidak akan pernah melupakan peristiwa tragis dan berdarah ini. Beberapa teman, tetangga dan seorang ustadz keturunan bugis, yang juga tetangga, turut menjadi korban atas kebiadaban dan kerakusan akan kekuasaan Orde baru. Semoga tidak akan pernah terulang lagi di masa datang………
Senin, 10 September 1984. Seorang oknum ABRI beragama Katholik, Sersan Satu Hermanu, mendatangi mushala As-Sa’adah untuk menyita pamflet berbau ‘SARA’. Namun tindakan Sersan Hermanu sangat menyinggung perasaan ummat Islam. Ia masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, menyiram dinding mushala dengan air got, bahkan menginjak Al-Qur’an. Warga marah dan motor motor Hermanu dibakar. Buntutnya, empat orang pengurus mushala diciduk Kodim. Upaya persuasif yang dilakukan ulama tidak mendapat respon dari aparat. Malah mereka memprovokasi dengan mempertontonkan salah seorang ikhwan yang ditahan itu, dengan tubuh penuh luka akibat siksaan.
Rabu. 12 September 1984. Mubaligh Abdul Qodir Djaelani membuat pernyataan yang menentang azas tunggal Pancasila. Malamnya, di Jalan Sindang, Tanjung Priok, diadakan tabligh. Ribuan orang berkumpul dengan semangat membara, disemangati khotbah dari Amir Biki, Syarifin Maloko, Yayan Hendrayana, dll. Tuntutan agar aparat melepas empat orang yang ditahan terdengar semakin keras. Amir Biki dalam khotbahnya berkata dengan suara bergetar, “Saya beritahu Kodim, bebaskan keempat orang yang ditahan itu sebelum jam sebelas malam. Jika tidak, saya takut akan terjadi banjir darah di Priok ini”. Mubaligh lain, Ustdaz Yayan, bertanya pada jamaah, “Man anshori ilallah? Siapa sanggup menolong agama Allah ?” Dijawab oleh massa, “Nahnu Anshorullah ! Kami siap menolong agama Allah !” Sampai jam sebelas malam tidak ada jawaban dari Kodim, malah tank dan pasukan didatangkan ke kawasan Priok. Akhirnya, lepas jam sebelas malam, massa mulai bergerak menuju markas Kodim. Ada yang membawa senjata tajam dan bahan bakar. Tetapi sebagian besar hanyalah berbekal asma’ Allah dan Al-Qur’an. Amir Biki berpesan, “Yang merusak bukan teman kita !”
Di Jalan Yos Sudarso massa dan tentara berhadapan. Tidak terlihat polisi satupun, padahal seharusnya mereka yang terlebih dahulu menangani (dikemudian hari diketahui, para polisi ternyata dilarang keluar dari markasnya oleh tentara). Massa sama sekali tidak beringas. Sebagian besar malah hanya duduk di jalan dan bertakbir. Tiba-tiba terdengar aba-aba mundur dari komandan tentara. Mereka mundur dua langkah, lalu … astaghfirullah ! Tanpa peringatan terlebih dahulu, tentara mulai menembaki jamaah dan bergerak maju. Gelegar senapan terdengar bersahut-sahutan memecah kesunyian malam. Aliran listrik yang sudah dipadamkan sebelumnya membuat kilatan api dari moncong-moncong senjata terlihat mengerikan. Satu demi satu para syuhada tersungkur dengan darah membasahi bumi. Kemudian, datang konvoi truk militer dari arah pelabuhan, menerjang dan melindas massa yang tiarap di jalan. Dari atas truk, orang-orang berseragam hijau tanpa nurani gencar menembaki. Tentara bahkan masuk ke perkampungan dan menembak dengan membabi-buta. Tanjung Priok banjir darah.
Pemerintah dalam laporan resminya yang diwakili Panglima ABRI, Jenderal L. B. Moerdani, menyebutkan bahwa korban tewas ‘hanya’ 18 orang dan luka-luka 53 orang. Namun dari hasil investigasi tim pencari fakta, SONTAK (SOlidaritas Nasional untuk peristiwa TAnjung prioK), diperkirakan sekitar 400 orang tewas, belum terhirung yang luka-luka dan cacat. Sampai dua tahun setelah peristiwa pembantaian itu, suasana Tanjung Priok begitu mencekam. Siapapun yang menanyakan peristiwa 12 September, menanyakan anak atau kerabatnya yang hilang, akan berurusan dengan aparat.
Sebenarnya sejak beberapa bulan sebelum tragedi, suasana Tanjung Priok memang terasa panas. Tokoh-tokoh Islam menduga keras bahwa suasana panas itu memang sengaja direkayasa oleh oknum-oknum tertentu dipemerintahan yang memusuhi Islam. Terlebih lagi bila melihat yang menjadi Panglima ABRI saat itu, Jenderal Leonardus Benny Moerdani, adalah seorang Katholik yang sudah dikenal permusuhannya terhadap Islam. Suasana rekayasa ini terutama sekali dirasakan oleh ulama-ulama di luar tanjung Priok. Sebab, di kawasan lain kota Jakarta sensor bagi para mubaligh sangat ketat. Namun entah kenapa, di Tanjung Priok yang merupakan basis Islam itu para mubaligh dapat bebas berbicara bahkan mengkritik pemerintah, sampai menolak azas tunggal Pancasila. Adanya rekayasa dan provokasi untuk memancing ummat Islam dapat diketahui dari beberapa peristiwa lain sebelum itu, misalnya dari pembangunan bioskop Tugu yang banyak memutar film maksiat diseberang Masjid Al-Hidayah. Tokoh senior seperti M. Natsir dan Syafrudin Prawiranegara sebenarnya telah melarang ulama untuk datang ke Tanjung Priok agar tidak masuk ke dalam perangkap. Namun seruan ini rupanya tidak sampai kepada para mubaligh Priok. Dari cerita Syarifin Maloko, ketua SONTAK dan mubaligh yang terlibat langsung peristiwa 12 September, ia baru mendengar adanya larangan tersebut setelah berada di dalam penjara. Rekayasa dan pancingan ini tujuannya tak lain untuk memojokkan Islam dan ummatnya di Indonesia.
Diringkas dan diedit ulang dari Majalah Sabili dan Tabloid Hikmah
www.ummah.net/
Sebagai anak yang lahir dan dibesarkan di tanjung Priok, tentu tidak akan pernah melupakan peristiwa tragis dan berdarah ini. Beberapa teman, tetangga dan seorang ustadz keturunan bugis, yang juga tetangga, turut menjadi korban atas kebiadaban dan kerakusan akan kekuasaan Orde baru. Semoga tidak akan pernah terulang lagi di masa datang………
Senin, 10 September 1984. Seorang oknum ABRI beragama Katholik, Sersan Satu Hermanu, mendatangi mushala As-Sa’adah untuk menyita pamflet berbau ‘SARA’. Namun tindakan Sersan Hermanu sangat menyinggung perasaan ummat Islam. Ia masuk ke dalam masjid tanpa melepas sepatu, menyiram dinding mushala dengan air got, bahkan menginjak Al-Qur’an. Warga marah dan motor motor Hermanu dibakar. Buntutnya, empat orang pengurus mushala diciduk Kodim. Upaya persuasif yang dilakukan ulama tidak mendapat respon dari aparat. Malah mereka memprovokasi dengan mempertontonkan salah seorang ikhwan yang ditahan itu, dengan tubuh penuh luka akibat siksaan.
Rabu. 12 September 1984. Mubaligh Abdul Qodir Djaelani membuat pernyataan yang menentang azas tunggal Pancasila. Malamnya, di Jalan Sindang, Tanjung Priok, diadakan tabligh. Ribuan orang berkumpul dengan semangat membara, disemangati khotbah dari Amir Biki, Syarifin Maloko, Yayan Hendrayana, dll. Tuntutan agar aparat melepas empat orang yang ditahan terdengar semakin keras. Amir Biki dalam khotbahnya berkata dengan suara bergetar, “Saya beritahu Kodim, bebaskan keempat orang yang ditahan itu sebelum jam sebelas malam. Jika tidak, saya takut akan terjadi banjir darah di Priok ini”. Mubaligh lain, Ustdaz Yayan, bertanya pada jamaah, “Man anshori ilallah? Siapa sanggup menolong agama Allah ?” Dijawab oleh massa, “Nahnu Anshorullah ! Kami siap menolong agama Allah !” Sampai jam sebelas malam tidak ada jawaban dari Kodim, malah tank dan pasukan didatangkan ke kawasan Priok. Akhirnya, lepas jam sebelas malam, massa mulai bergerak menuju markas Kodim. Ada yang membawa senjata tajam dan bahan bakar. Tetapi sebagian besar hanyalah berbekal asma’ Allah dan Al-Qur’an. Amir Biki berpesan, “Yang merusak bukan teman kita !”
Di Jalan Yos Sudarso massa dan tentara berhadapan. Tidak terlihat polisi satupun, padahal seharusnya mereka yang terlebih dahulu menangani (dikemudian hari diketahui, para polisi ternyata dilarang keluar dari markasnya oleh tentara). Massa sama sekali tidak beringas. Sebagian besar malah hanya duduk di jalan dan bertakbir. Tiba-tiba terdengar aba-aba mundur dari komandan tentara. Mereka mundur dua langkah, lalu … astaghfirullah ! Tanpa peringatan terlebih dahulu, tentara mulai menembaki jamaah dan bergerak maju. Gelegar senapan terdengar bersahut-sahutan memecah kesunyian malam. Aliran listrik yang sudah dipadamkan sebelumnya membuat kilatan api dari moncong-moncong senjata terlihat mengerikan. Satu demi satu para syuhada tersungkur dengan darah membasahi bumi. Kemudian, datang konvoi truk militer dari arah pelabuhan, menerjang dan melindas massa yang tiarap di jalan. Dari atas truk, orang-orang berseragam hijau tanpa nurani gencar menembaki. Tentara bahkan masuk ke perkampungan dan menembak dengan membabi-buta. Tanjung Priok banjir darah.
Pemerintah dalam laporan resminya yang diwakili Panglima ABRI, Jenderal L. B. Moerdani, menyebutkan bahwa korban tewas ‘hanya’ 18 orang dan luka-luka 53 orang. Namun dari hasil investigasi tim pencari fakta, SONTAK (SOlidaritas Nasional untuk peristiwa TAnjung prioK), diperkirakan sekitar 400 orang tewas, belum terhirung yang luka-luka dan cacat. Sampai dua tahun setelah peristiwa pembantaian itu, suasana Tanjung Priok begitu mencekam. Siapapun yang menanyakan peristiwa 12 September, menanyakan anak atau kerabatnya yang hilang, akan berurusan dengan aparat.
Sebenarnya sejak beberapa bulan sebelum tragedi, suasana Tanjung Priok memang terasa panas. Tokoh-tokoh Islam menduga keras bahwa suasana panas itu memang sengaja direkayasa oleh oknum-oknum tertentu dipemerintahan yang memusuhi Islam. Terlebih lagi bila melihat yang menjadi Panglima ABRI saat itu, Jenderal Leonardus Benny Moerdani, adalah seorang Katholik yang sudah dikenal permusuhannya terhadap Islam. Suasana rekayasa ini terutama sekali dirasakan oleh ulama-ulama di luar tanjung Priok. Sebab, di kawasan lain kota Jakarta sensor bagi para mubaligh sangat ketat. Namun entah kenapa, di Tanjung Priok yang merupakan basis Islam itu para mubaligh dapat bebas berbicara bahkan mengkritik pemerintah, sampai menolak azas tunggal Pancasila. Adanya rekayasa dan provokasi untuk memancing ummat Islam dapat diketahui dari beberapa peristiwa lain sebelum itu, misalnya dari pembangunan bioskop Tugu yang banyak memutar film maksiat diseberang Masjid Al-Hidayah. Tokoh senior seperti M. Natsir dan Syafrudin Prawiranegara sebenarnya telah melarang ulama untuk datang ke Tanjung Priok agar tidak masuk ke dalam perangkap. Namun seruan ini rupanya tidak sampai kepada para mubaligh Priok. Dari cerita Syarifin Maloko, ketua SONTAK dan mubaligh yang terlibat langsung peristiwa 12 September, ia baru mendengar adanya larangan tersebut setelah berada di dalam penjara. Rekayasa dan pancingan ini tujuannya tak lain untuk memojokkan Islam dan ummatnya di Indonesia.
Diringkas dan diedit ulang dari Majalah Sabili dan Tabloid Hikmah
www.ummah.net/
Langganan:
Postingan (Atom)